Tips Sang Guru

Blog seorang guru yang ingin berbagi dan belajar bersama

Siswa IPS Bisa Masuk ITS

Ini berita menarik sekaligus tantangan bagi Lulusan jurusan IPS, bahwa Siswa IPS punya kesempatan kuliah di ITS Surabaya. Berikut kutipan berita dari Jawa Pos:
SURABAYA – Jurusan yang ditawarkan dalam beasiswa Bidik Misi kerja sama ITS, Ika ITS, dan Jawa Pos tidak melulu harus dimasuki siswa dari program IPA. Siswa dari program IPS pun memiliki kesempatan duduk di bangku perkuliahan salah satu kampus teknologi terbesar di Indonesia itu.

Menurut Rektor ITS Priyo Suprobo, siswa program IPS juga bisa mendaftar di tiga jurusan di ITS, yakni perencanaan wilayah dan kota (planologi), sistem informasi, dan desain produksi. Tiga jurusan di ITS itu juga tidak bisa dibilang remeh. Setiap tahun siswa pendaftar dari program IPA juga membanjir.

Pria asli Jogjakarta tersebut mengungkapkan, para siswa dari program IPS tidak perlu khawatir tertinggal oleh siswa dari program IPA apabila diterima di jurusan itu. “Kami akan mendidik mereka sejak awal secara seragam. Jadi, tidak perlu khawatir tertinggal dalam menyerap mata kuliah dari para dosen,” ucapnya kemarin (19/3).

Pada semester awal, kata dia, para dosen akan mengajarkan mata kuliah matematika dasar atau fisika dasar. Ini menjadi modal untuk mempelajari mata kuliah pada semester-semester selanjutnya. “Jadi, meski IPS, saya yakin mereka tidak keponthal-ponthal kuliah di ITS. Mereka kan anak-anak cerdas,” ucap mantan dosen teknik sipil itu.

Pria yang akrab dipanggil Probo tersebut menambahkan bahwa tiga jurusan tersebut juga memiliki daya serap tinggi di pasar kerja. Sebut saja jurusan perencanaan wilayah dan kota. Lulusan jurusan itu dicetak untuk menjadi otak pembangunan perkotaan atau pengembangan wilayah. “Jadi, kalau ada siswa yang punya angan-angan berkarir di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), ada baiknya memilih program itu,” jelasnya. Di daerah mereka berpeluang berkarir di badan perencanaan pembangunan kota atau badan perencanaan pembangunan kabupaten.

Selain itu, profesi lain yang bisa dimasuki adalah konsultan. “Alumnus ITS bila menjadi konsultan bank dunia untuk pembangunan perkotaan tentu membanggakan,” katanya.

Probo kemudian memberikan gambaran peluang jurusan lain, yakni desain produksi. “Ini juga ilmu yang juga akan terus dilirik pasar kerja. Setiap industri pasti membutuhkan desain. Lulusan ITS bisa mewarnai itu. Kebutuhan tenaga itu sangat banyak,” ujarnya.

Karena itu, Probo berharap agar para siswa IPS tidak berkecil hati masuk ITS. “Mari berbondong-bondong mendaftar,” tambahnya.

Sebagaimana diberitakan, ITS, Ika ITS bersama Jawa Pos mencari 450 siswa berprestasi tapi tidak mampu dari seluruh Indonesia. Mereka berkesempatan mendaftar ke semua jurusan ITS baik yang diploma III maupun S-1. Mereka yang diterima mendapatkan kucuran beasiswa selama masa studi, plus biaya hidup Rp 500 ribu sebulan.

Untuk mendaftar program itu, para siswa berprestasi lulusan SMA/MA/SMK 2010 bisa mengakses http://www.its.ac.id. Para siswa juga dapat mengirimkan berkasnya ke Jawa Pos. Alamatnya, Lantai 4 Graha Pena, Jalan A. Yani 88 Surabaya, kode pos 60234 atau langsung diserahkan kepada Ayu Mega Kusumawati di alamat tersebut.

Berkas yang dikirimkan adalah foto diri 4 x 6, fotokopi rapor semester 1-5 beserta keterangan peringkat dalam kelas atau sekolah, fotokopi bukti prestasi, fotokopi kartu keluarga, fotokopi kartu keluarga miskin, surat keterangan bahwa pendaftar adalah siswa berprestasi dan tidak mampu yang ditandatangani kepala sekolah.

Sebelumnya, para siswa dapat menghubungi nomor-nomor berikut: 031 71427348, 031 70471861, 081 65431864. Batas akhir pengiriman berkas 3 April 2010. (git/c5/tom)
Dikutip dari Jawa Pos,20 Maret 2010

About these ads

Maret 23, 2010 - Posted by | Berita, Informasi Pendidikan | , ,

23 Komentar »

  1. Thanks very much B 4, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya! Akhirnya, saya menemukan perilaku herois dan nasionalis yang kondusif terhadap persatuan di sini. Saya merasa gembira sekali bahwa perguruan tinggi ini berperan dalam menghapus diskriminasi menyakitkan yang dialami oleh para siswa jurusan ilmu sosial di sekolah menengah umum.

    Selama ini, mereka didiskriminasikan. Jurusan tempat mereka menempuh studi sering kali diposisikan sebagai jurusan abal. Padahal, sebenarnya tidak boleh begitu. Tuhan tidak demikian goblognya menghadirkan ilmu sosial dalam realitas kehidupan manusia hanya untuk diejek, didiskriminasikan, atau diremehkan. Hanya saja, kita orang Indonesialah yang salah dalam bersikap.

    Ilmu sosial dan para pembelajarnya tentu saja juga amat dibutuhkan oleh kehidupan beserta masyarakat di dalamnya. Melalui ilmu sosial, berbagai keteraturan yang ada dalam kehidupan manusia serta permasalahan yang terjadi di dalamnya dikaji secara serius. Kondisi itu membutuhkan orang-orang yang berminat mempelajarinya. Untuk itulah, ilmu sosial dihadirkan.

    Saya berharap, Institut Teknologi Sepuluh Novem ber Surabaya juga membuka lebih lebar lagi peluang bagi adik-adik alumnus ilmu sosial. Saya yakin, apabila ada program studi yang memiliki relevansi dengan manajemen industri dihadirkan, semisal teknik dan manajemen industri, mereka juga layak diberi kesempatan masuk. Mereka pasti mampu pula. Bravo!

    Komentar oleh Muliawan Hamdani, S.E. | Mei 18, 2010 | Balas

  2. sistem informasi itu gimana, bisa dijelaskan!
    thank’u

    Komentar oleh rofik pengen sukses | Juni 30, 2010 | Balas

  3. Wah semakin rumit nih pendidikan di Indonesia, carut marut, kalo begitu kan jadi serasa “tidak ada gunanya” penjurusan di SMA.. padahal anak tetangga saya saja sampai stress loh gara-gara gagal masuk IPA.. tapi mungkin akan saya bilang padanya : “yang penting jurusan waktu kuliah dek.. mau anak pesantren kek, mungkin aja jadi dokter..”
    Lagipula, padahal jurusan yang ditawarkan oleh PT untuk anak IPS pun sudah sangat banyak, dan tak kalah “taringnya” dengan anak IPA..ITS kan “perguruan tinggi teknik”(kalo saya tak salah)ya lebih tepat atau pasti tuk anak IPA dong.. mungkin ad baiknya penjurusan “lebih” ditegaskan, jadi kesannya tak main-main dan tak sia-sia.. giliran Kedokteran yg “bejubel” harus IPA, eh, yang agak “sepi” semisal Kehutanan(saya tak bermaksud diskriminatif) loh..? anak IPS toh bisa, padahal jelas kehutanan tuk prodi IPA, demikian juga kebalikannya, apabila ia “sepi” pastilah terima segala jenis/kondisi, kayak hukum dagang..?! kasian anak tetangga saya, padahal ternyata disepelekan..

    Komentar oleh pendapat_saja | Agustus 5, 2010 | Balas

  4. Kenapa Anda justru bersedih ketika Institut Teknologi Sepuluh November memberikan peluang kepada adik-adik kita alumnus program studi ilmu sosial? Apakah ada yang salah dengan kebijaksanaan yang bagi saya adalah terobosan baru yang bijaksana sekaligus normatif? Saya mengatakan bahwa itu adalah kebijaksanaan normatif karena menurut norma diskriminasi jurusan atau bidang ilmu adalah hal yang tidak boleh terjadi. Sedangkan selama ini diskriminasi perlakuan yang menyakitkan senantiasa diterima tanpa bisa ditolak oleh adik-adik kita dari program studi ilmu sosial di sekolah menengah atas beserta ilmu yang mereka pelajari.

    Padahal, Tuhan kita menghadirkan ilmu-ilmu sosial serta para pembelajarnya dalam peradaban kita pastilah bukan untuk dijadikan kalah-kalahan maupun bahan ejekan. Memang, sewaktu saya masih menjadi siswa sekolah menengah atas beberapa belas tahun lalu, jurusan ilmu sosial sering diposisikan sebagai tempat buangan bagi para siswa yang nakal, bodoh, kehilangan arah, dan segala hal lainnya yang buruk. Sering kali terjadi, seorang anak yang bagus prestasi akademiknya dan ingin menekuni ilmu sosial secara serius dihalang-halangi oleh guru bimbingan dan penyuluhan atau diminta untuk mempertimbangkan niatnya berulang kali. Padahal, seharusnya program studi ilmu sosial adalah tempat yang tepat bagi mereka yang ingin mengkaji keteraturan yang terjadi dalam kehidupan manusia sebagai maklhuk yang bermasyarakat. Program studi ilmu sosial seharusnya ditempatkan dalam posisi yang sama mulianya dengan program studi ilmu alam. Para peserta didiknya juga harus memperoleh perlakuan yang sama terhormatnya. Baik ilmu sosial maupun ilmu alam pada dasarnya harus saling memperkuat. Apalagi kita tahu bahwa apabila tercipta penemuan teknologi selangkah, acap kali masalah sosial yang ditimbulkannya kemudian melompat dua atau tiga langkah ke depan.

    Selama ini, para siswa serta program studi ilmu sosial senantiasa dikalahkan sejak dari komposisi jumlah peserta didik yang pandai. Kemudian, program studi yang boleh mereka masuki di perguruan tinggi juga amat dibatasi. Pendek kata, ada berbagai masalah kebijaksanaan struktural yang menjadikan para siswa serta program studi ilmu sosial selalu mendapatkan kondisi yang tidak enaknya. Padahal, kondisi berlawanan selalu dinikmati oleh para siswa serta program studi ilmu alam. Karenanya, apa yang dilakukan oleh Institut Teknologi Sepuluh November ini haruslah diapresiasi bukan malah dianggap membingungkan.

    Saya telah mengamati kurikulum berbagai program studi yang untuk memudahkan pengelompokan administratifnya dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri dinyatakan sebagai program studi ilmu alam. Misalnya saja, perencanaan wilayah (planologi), sosial-ekonomi pertanian, penyuluhan pertanian, manajemen sumber daya pantai, teknik dan manajemen industri, maupun desain. Ternyata, beberapa program studi tersebut justru sarat dengan muatan bidang ilmu sosial, ekonomi, seni, maupun budaya. Memang, materi ilmu alam seperti fisika, kimia, atau biologi diberikan. Tetapi, porsinya tidak mendominasi. Matematika juga ada di dalamnya. Namun, Anda harus tahu bahwa matematika bukanlah ilmu alam. Ia adalah ilmu yang memperkuat analisis ilmu alam serta ilmu sosial. Dengan belajar secara rajin disertai dorongan motivasi yang kuat, saya yakin adik-adik alumnus program studi ilmu sosial di sekolah menengah atas bisa eksis di dalamnya. Kesempatanlah yang lebih mereka butuhkan. Mereka pasti mampu!

    Komentar oleh Muliawan Hamdani, S.E. | September 16, 2010 | Balas

  5. benar, saya juga mengucapkan Alhamdulillah, ITS menerima juga anak IPS, tapi kenapa cuma beberapa jurusan saja? kenapa cuma jurusan yang ada ilmu sosialnya baru anak IPS berani “menyerangnya”?

    Saya amat yakin anak IPA tidak akan meremehkan anak IPS, begitu juga masyarakat, namun fakta berbicara, anak IPA dengan santainya masuk dan menjadi seorang Akuntan(contoh), tak ada rasa takut dalam benak mereka, padahal harus berurusan dengan ilmu yang sama sekali tak mereka kuasai, dan juga saya akui Akuntansi bukanlah ilmu yg mudah, tapi apa yg terjadi? saya juga tak mengerti, nilai-nilai mereka baik-baik saja, bahkan kadang-kadang (maaf) mengalahkan anak IPS itu sendiri.(pengalaman teman saya)

    sekarang ganti posisi jika saya melihat anak IPS, bahkan pernah saya tanya anak IPS, kenapa kamu gak masuk Teknik Elektro?
    jawabnya : gilee, fisika!! ampun ngitungnya!!!
    loh? kalo gitu Kedokteran aj, toh hitung-hitungannya jarang, banyak ngafal kan?
    jawabnya : gokill..! bisa jadi sejarah gue!!! mana mungkin!!

    kemudian saya tanya Anak IPA, kenapa kamu gak masuk Hukum?
    jawabnya : jangan lah sia2 IPA gue.. pilihan terakhir boleh juga tuh..

    Faktanya :
    Sulit mencari Anak IPS yang gak minder sama jurusan berbau IPA, tapi hampir semua Anak IPA itu berani “menyerang lahan” IPS. apa saya salah?

    mengapa anak IPS malah mengatakan mereka di DISKRIMINASI?
    Anak IPS sendiri lah yang harus menghilangkan image itu, bukan berharap masyarakat yang akan menghilangkannya, image “nakal” “buangan” dsb, bukan sebuah cap begitu saja, melainkan melalui proses penilaian yang panjang oleh masyarakat.

    ITS mungkin hanya “memancing” keminderan anak IPS, toh di SNMPTN ada IPC kan? TAK ADA YANG MEMBATASI ANAK IPS..yang ada mereka sendiri yang minder, takut dengan rumus fisika, dan putus asa untuk mempelajarinya..

    Dan siapa bilang anak IPA tahu dan jago tentang Ekonomi atau Pasal-pasal dari Hukum? Mereka TAK TAHU tapi Mereka MAU BELAJAR..

    IPS dan IPA sama-sama ilmu bermanfaat dari Tuhan, tak ada yang lebih baik atau lebih buruk.

    thanks.. dan mohon maaf jika ada kata2 yg kurang berkenan..

    Komentar oleh pemberontak | November 1, 2010 | Balas

    • Ha..ha..ha…kebiasaan masyarakat pada umumnya jika ingin memihak satu hal (pro)maka mereka akan cari contoh yang jelek-jelek saja untuk hal yang lain (kontra, padahal faktanya tidak bisa “digebyah uyah” seperti itu. Anak IPS yang bagus juga banyak (karena ia ketika pilih jurusan benar-benar sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya)dan anak IPA yang biasa-biasa saja juga ada (seperti saya ini dari jurusan IPA tapi baru sadar kalo akhirnya harus pilih kuliah di SENI RUPA).

      Anak IPA yang teler juga ada sehingga ia harus “kepontal-pontal” ketika harus mengikuti mata pelajaran IPA. Dan ini terjadi karena beberapa faktor, diantaranya adalah:
      1. Memilih karena ikut teman atau gengsi
      2. Menganggap jurusan yang satu lebih mudah dari yang lain
      3. Paksaan orang tua
      4. Politik lembaga sekolah
      5. Budaya masyarakat yang salah menilai tentang bidang keilmuan sehingga seolah ada kasta-kasta dalam bidang keilmuan

      Jadi masalahnya bukan diskriminasi murni, melainkan tapi banyak faktor yang akhirnya memandangnya jadi “salah kaprah”

      Ingat tokoh-tokoh penguasa justru datang dari IPS, sementara yang jadi tukang justru anak IPA (ini hanya dari satu sudut pandang lho..jangan GR)

      Komentar oleh Kris Adji AW | November 22, 2010 | Balas

  6. saya anak IPS, dan saya diterima di SISTEM INFORMASI ITS.
    memang, dahulu ada yang namanya MATRIKULASI untuk “memperkenalkan” atau “mempelajari ulang” FISIKA DASAR dan MATEMATIKA.
    saya sangat amat berharap untuk bisa mempelajari semua dari dasar, karena semasa SMA saya, saya hanya mempelajari matematika IPS dan sudah tidak lagi mempelajari fisika. walaupun waktu itu saya tahu hanya SAYA yang dari IPS, saya mencoba percaya diri, bahwa saya tahu saya mungkin tidak sepintar mereka untuk ilmu2 yang mereka miliki, tetapi saya juga PUNYA ilmu2 yang orang2 IPA tidak miliki.
    TAPI TERNYATA, teman2 matrikulasi saya banyak sekali yang memandang remeh saya, dan kata2 semacam, “kamu anak IPS ngapain nyasar di sini?”, atau pandangan2 mereka ke saya sewaktu saya dengan bangga berkata kalau saya adalah orang IPS.
    saya mencoba cuek, toh saya jauh2 ke surabaya untuk BELAJAR. awal dari ilmu pengetahuan adalah KETIDAKTAHUAN. ternyata, pelajaran yang diberikan pun bukan dari DASAR. melainkan sudah sangat mendalam. dosen2 pun kerap mengatakan, “ini kan sudah kalian pelajari di SMA, pasti bisa kan”.
    apa yang bisa saya perbuat? menghentikan beliau untuk menjelaskan lebih terperinci dari awal? itu hal yang tidak mungkin.
    suatu hari saat saya mengikuti kelas fisika, saya ditunjuk maju. bisa dibayangkan betapa bingung saya, untungnya teman sebelah saya memberikan jawabannya, jadi saya hanya tinggal menulis di papan tulis. lalu si dosen meminta saya menjelaskan. dengan terbingung2 saya cuma menjawab, “saya tidak terlalu mengerti ini pak”.
    dosen itu berkata, “ini kan mudah, semua mempelajari kan sewaktu SMA? masa kamu tidak bisa?”
    akhirnya dengan putus asa saya bilang, “saya dari IPS pak, saya tidak belajar ini”
    dan dosen itu dengan wajah terkejut menyebalkan berkata, “lho, anda dari IPS? oalahh,, ya sudah, duduk, duduk…”
    dan seisi kelas tiba2 seperti memndang saya dengan tatapan2 yang saya sangat tidak suka.
    begitu juga dengan kelas matematika. akhirnya, saya cuma masuk sekitar 1,5 minggu dan selebihnya saya tidak pernah mengikuti kelas matrikulasi lagi.
    tidak sampai di situ, begitu kuliah, saya dihadapkan dengan matematika diskrit. saya berusaha setengah mati mengikuti alurnya, dan alhamdulillah saya masih bisa mengikuti.
    tetapi begitu muncul kewajiban mata kuliah KALKULUS LINEAR, lagi2 saya mendengar perkataan yang sama dari dosen, “ini sudah kalian pelajari kan sewaktu SMA? gampang laah ini”
    saat itu saya berpikir, “mereka sendiri yang mempromosikan jurusan ini untuk kami kaum IPS, tetapi mereka seolah2 benar2 LUPA siapa yang mereka undang.
    tetapi ada saat di mana mereka mengajarkan bisnis akuntansi pada kami, walaupun hanya dalam 3 bulan saja. dan saat2 seperti itu rasanya saya benar2 di atas langit. sementara teman2 saya sampai membeli buku2 akuntasi setebal batako, mereka tetap tidak mengerti akuntansi dasar, yang tentunya sudah sangat saya kuasai di luar kepala.
    jadi, siswa IPS bisa masuk ITS atau tidak? itu penilaian masing2 individu. kalau ada anak jurusan IPA yang mampu masuk jurusan akuntansi atau bisnis manajemen, bukan berarti anak IPS tidak bisa masuk kuliah jurusan IPA. menurut saya semua tergantung minat, bakat, dan MODAL yang dibawa sebelum masuk kuliah. ya, contoh saja modal mampu menggambar, lalu mencalonkan diri di despro.
    tapi untuk hal sosial, saran saya untuk IPS yang mau masuk, kuatkan mental aja deh. saya dulu sudah berkali2 capek mental kuliah di ITS. sekarang sih alhamdulillah sudah semester2 atas, jadi sudah mulai terbiasa.

    ga ada yang buruk dengan IPS, guru2 SMA saya dulu sering mengingatkan bahwa IPS itu pada akhirnya adalah memimpin orang IPA. sangat jarang orang IPA memimpin suatu bisnis2 besar. jadi berbanggalah. diskriminasi atau hal seperti kasta-kasta pada bidang ilmu itu sama sekali TIDAK PANTAS. kalau hal seperti ini berlanjut, ga usah heran, banyak orang2 yang sebenarnya mampu dikembangkan menjadi bibit unggul di negeri sendiri malah lebih memilih dididik di negeri orang yang jauh lebih menghargai mereka.

    Komentar oleh Anonymous | Desember 23, 2011 | Balas

    • maaf, boleh minta akun yg aktif? Saya anak IPS dan ingin masuk ITS. Tolong saya :( ini email putrijr10@yahoo.com

      Komentar oleh putri | Desember 26, 2011 | Balas

      • saya benar2 bingung, ingin masuk Sistem Informasi ITS

        Komentar oleh putri | Desember 26, 2011

      • kk mnta info cra masuk ITS’y dund sy jga mo masuk ..
        Sy dri IPS ..
        Tlng krim k’email/FB sya ea..

        Mksih ..

        Komentar oleh firman | Januari 28, 2012

      • Share info donk kk.. :(

        Komentar oleh Dyant | Maret 5, 2012

  7. sy siswa IPS mau masuk ITS jrusan sistem infomsi, gmna cra pndaftaran’y ea.,
    Sy da d’wilayah jakarta, bsa ksi info’y ga.,
    Klo bsa krim k’email sy/FB sya ..

    Mksihh agan2 ..

    Komentar oleh firman | Januari 28, 2012 | Balas

    • maf email’y k’tnggalan ..

      firman_mfh@yahoo.co.id

      FB ”muhammad firman”

      Mksihh, tlng ea cz bntar gi sy mo k’lu2s’an tnggal 3 bln gi kra2 ..

      Komentar oleh firman | Januari 28, 2012 | Balas

      • Share info donk kk

        Komentar oleh Dyant | Maret 5, 2012

  8. Saya juga dari IPS (ILMU PENGETAHUAN SOSIAL), minta bantuan’y ya kakak, tolong kirim ke email saya dyant_smaga@yahoo.com, tolong share info’y ya kakak, please… thank’s banget…

    Komentar oleh Dyant | Maret 4, 2012 | Balas

  9. maaf nih sbnelumnya.. aku juga anak IPS.. aku bingung akrng sistem informasi itu masuk IPA atau IPS sih?? terus kalo misal anak IPS ikut ujian apa ikut IPC ya??? atau ikut ujian biasa??? saya bingung

    oh iya add fb saya ya.. massage dong >..<

    Komentar oleh andirno | Mei 6, 2012 | Balas

  10. keren its gk pandang bulu

    Komentar oleh aruka | Juli 28, 2012 | Balas

  11. bisa gak anak IPS masuk PWK ITS leawt jalur Undangan (SNMPTN) ?? thanks kakak :). mohon info: itemmanis_dot@yahoo.com

    Komentar oleh XXX | Januari 1, 2013 | Balas

  12. ove”

    Komentar oleh nifir | April 24, 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.