Tips Sang Guru

Blog seorang guru yang ingin berbagi dan belajar bersama

KAJIAN SENI RUPA (1) :Komputerisasi » keterbukaan konseptualitas

teknologi setidaknya menghadirkan suatu momok dalam wacana seni rupa yang terasa sangat lokalistis ini. ia dicemburui, dituduh sebagai kemudahan, tanpa perlu mengkaji ulang bahwa sesungguhnya kosa kata teknologi tersebut sangatlah terbelenggu ruang dan waktu. tidakkah artefak yang anda lihat sekarang di dalam museum adalah sebuah teknologi pada zamannya? itu adalah yang anda sangat ketahui dan saya tak akan menjelaskan ulang atas dasar kedewasaan.

penggunaan teknologi komputer sebagai medium dalam seni rupa bukanlah hal yang baru. walaupun tetap merupakan keanehan mengapa di kota ketiga dalam wacana seni rupa Indonesia ini, ia menjadi suatu keganjilan tersendiri. allessandro bavari, morimura, adalah salah satu contoh seniman dunia yang juga memanfaatkan komputer sebagai mediasi.

seringkali jika membahas ini, yang terbersit pertama kali adalah kemudahan. memang betul bahwa kemudian medium ini pada akhirnya sangat mengandalkan sense. itu akan dibicarakan nanti. namun jika kembali pada kemudahan, kemudahan seperti apa yang dimaksud? kemudahan tools dalam memilih warna yang mungkin jika diaplikasikan melalui cat minyak memerlukan waktu berbulan-bulan? betul. kemudahan, karena terjadi perubahan esensial dari mencipta, menjadi menggubah: obyek ditemukan melalui internet, digubah kembali menjadi obyek yang baru? bisa betul dan tidak. namun lepas dari masalah tersebut, perkataan mudah sepertinya hanyalah apologi seperti layaknya fenomena fotografi yang menggetarkan realisme pada seni lukis dahulu? karena jika dikatakan mudah, seperti julukan klik art bersama hujatan instannya, bukankah itu sama pula dengan artikel seni rupa kita dewasa ini yang hobby mengutip sana-sini, gila dengan footnote, namun tanpa hasil pemikiran “yang orisinil” dari penulisnya? karena jika dikatakan mudah, mengapa sampai sekarang banyak sekali seniman yang tidak menguasai komputer? lepas dari kegunaannya sebagai media ekspresi, setidaknya komputer memudahkan anda untuk menulis cv, proposal pengantar dana pameran, atau sekedar mengetahui dunia maya melalui internet? bagaimana dikatakan mudah jika untuk membuka komputer saja anda tidak bisa?

ada satu pola perubahan yang sangat jelas di mata saya perihal komputerisasi – dengan mengesampingkan keberluasan pencapaiannya sendiri tentu saja – yaitu adanya perubahan dari mencipta menuju penggubahan. namun saya kembali berpikir bahwa perubahan itu tetap pada tataran media.

ketika kita berbicara mengenai penciptaan, jika dikatakan bahwa seni lukis adalah menciptakan bentuk secara otonom? tidak. seni lukis pada akhirnya harus tunduk pada realitas dan pengalaman visual perupanya dalam mengolah bentuk. seimajinasikal apapun bentuknya, tentu tak bisa dipungkiri bahwa terjadi pergulatan-pergulatan citra di sebuah benak, sebelum akhirnya diaplikasikan pada media kanvas/ karton/ kertas/ dll. salah satu pembedanya dengan komputerisasi, penggubahan citra yang di seni lukis terjadi di dalam benak, atau di dalam sketsa, pada komputer terjadi di layar monitor, penggubahannya dapat dilihat secara jelas sebagai realitas, layaknya otak anda diproyeksikan secara utuh. tidak ada citra yang lahir tanpa realitas tentu saja. sebagaimana pun perubahan proses penggubahan tersebut terjadi.

lalu, pertanyaan kembali bergulir mengenai kemampuan yang dikatakan tidaklah manual. ini polemik yang serupa tentu saja dengan pengupasan kembali arti teknologi di atas. atas dasar apa manualisasi distandarkan di zaman yang semakin purba ini? ketika kuas berganti dengan mouse, ketika kanvas berganti dengan monitor, ketika rekaman citra di kepala anda berganti dokumentasional dalam fotografi, atau scanner, ketika cat berganti tools-tools dalam monitor. adakah pembedaan selain tataran material di situ? anda baru bisa mengatakan manualisasi secara tepat jika dari buku-buku jari anda dapat keluar cat yang sama sekali bukanlah produk pabrik, ataupun anda mampu menciptakan cat sendiri dari bahan-bahan alam seperti salah satu suku kita. tapi sekalipun suku tersebut mampu mengolah proses alam, bukankah bahan-bahan tersebut pun adalah sebuah ciptaan tuhan? mengatakan bahwa ia tidak berdiri sendiri, bahkan jika anda seorang pesulap pun, dan dapat menghasilkan citra di dalam sebuah media, bukankah kuasa manualisasi tersebut juga bukanlah karya sang pencipta?

jika dikatakan diperlukan kemampuan teknik, memang komputer adalah media kurang ajar yang seakan menginjak-injak tataran teknik yang perlu dikuasai bertahun-tahun secara akademis, dengan hanya bermodalkan kreatifitas dan keberanian serta buku-buku panduan software. di sini terjadi pelompatan waktu kreasi. namun juga perlu disadari bahwa kemudahan yang ditawarkan komputerisasi – yang dicurigai sebagai kemudahan yang instan -, melahirkan konsekuensi yang rumit pula.

photoshop sebagai salah satu software unggul dalam mengolah citra ini, tentu tidak lantas berdiri sendiri. hal ini sangat bergantung pada kreatifitas perupa. jika dikatakan photoshop tidak dapat menciptakan image, adobe illustrator dapat membuat anda menggambar sendiri, atau bahkan jika anda tidak puas, anda pun dapat menggambar di kanvas, atau melalui photografi, lalu anda scan ulang, anda atur lay outnya, bertingkah gila dengan filter-filter yang dapat diperoleh secara bajakan dalam installer di kaki lima, bermain 3 dimensi dengan 3ds max, mencetaknya dalam media kertas atau kanvas sekalian jika modal anda berlebih (jika anda mengatakan bahwa karya seni tidak ternilai dengan uang!). atau masih kurang puas, anda pun dapat mengoreksinya dengan kolase-kolase, ataupun abstraksi cat minyak dari tangan anda sendiri ketika hasil print anda telah jadi. atau pun beralih ke video art, jika anda menginginkan adanya unsur waktu, ruang serta suara di dalamnya. berkolaborasi dengan handycam dan banyak lagi kemungkinan lain.

saya tidak bilang itu kemudahan, jika kita telah mengetahui berapa milyar kemungkinan yang dapat tercipta. pada akhirnya komputer dengan ragam aplikasinya, juga menuntut kemampuan teknis dalam tatanan yang sangat berbeda. keragaman aplikasi tersebut pada akhirnya menuntut kita kembali pada tataran konseptualitas (sebagai sesuatu yang biasanya sangat kita agung-agungkan): yaitu, berpikir secara karya, akan dikemanakan dan diapakan karya ini bersama berjuta kemampuannya? karena sangat tidak mungkin untuk menumpahkan berjuta filter (serupa dengan teknik manual), efek, unsur lighting dlsb dalam satu karya. karena pada akhirnya karya memerlukan tutur kata yang sesuai dengan konseptualitas yang diturutkannya. pada akhirnya tataran berpikir kita akan kembali ke awal. bahwa media hanyalah alat. bahwa kemudahan teknologi tidak harus menjadikan kita serakah dan terkesima dengan hasil-hasil yang tak dapat dicapai sebelumnya, bahwa eksekusi akhir selalu kembali pada anda, untuk menentukan akan seperti apa karya dibawa? bahwa sudah benarkah semua teknik yang anda gunakan, apakah tidak hanya menjadi dekorasi visual belaka?

pada akhirnya, seiring dengan proses yang terjadi, terjadi pula pemadatan karya, berusaha menghilangkan dekorasi visual yang tidak perlu, mengkaji ulang apa karya ini sudah cukup, jika dikurangi akan berubah dan jika ditambahi akan bergeser pula pola konseptualitasnya? bahkan cenderung, seseorang yang sudah puas bermain-main dengan heavy graphic dengan video artnya, akan kembali pada pemakaian obyek-idiom-simbol-citra-realitas yang sederhana, kembali berputar layaknya sejarah, namun dengan landasan yang ada, yang sering kita junjung tinggi sebagai kata dewa itu: proses.

dan apakah kemudian proses kemudian hanya termanifestasi pada tataran praktek dan material? bukanlah pada kemampuan berpikir seseorang dengan kritis-analisisnya? terlalu banyak latihan juga tidak baik, jika tidak bersama referensi yang cukup. sebuah referensi yang akan mematikan kreasi anda sendiri, karena ternyata kreasi tersebut sudah pernah dilakukan berpuluh-puluh tahun lalu oleh seniman yang telah termediakan. bahwa referensi kemudian membawa konsekuensi kepada kita bahwa tak ada yang baru dalam dunia ini, tak ada yang orisinil. kita hanya meminjam orisinalitas dengan mengolah sesuatu yang lama menjadi baru, dengan meminjam kuasa semesta sang pencipta untuk kita daur ulang.

bahwa pada akhirnya kita akan berpikir pada karya itu sendiri. sejauh mana karya itu mampu berkomunikasi interaktif antara pencipta dan apresiatornya, bagaimana jiwa yang tak nampak itu dapat berbicara diluar segala media yang dianutnya? bukanlah barang baru, jika penjunjung tinggi media tertentu, atau bahkan komputer sekalipun, namun tetap berbicara secara sterotipikal simbolikal mengenai gigantisme permasalahan sosial-politik-budaya yang ternyata tak dekat dengan dirinya sebagai satuan personal, yang seharusnya menyuarakan tema-tema yang intim dan dekat serta jujur, tidak lantas terbuai dengan propaganda lsm yang bertopengkan seni rupa dalam pencapaian maksudnya.

karena pencapaian media / teknik adalah kreatifitas, bahwa karya pada akhirnya akan menuntut kepada kita untuk terus diperbaharui bahasanya, tata kalimatnya. bahwa berpikir secara karya tidak terbatas pada media. karena karya menuntut kemampuan berbicaranya untuk dipenuhi dengan kemungkinan teknik dan medium apapun. diluar permasalahan high-art dan low art yang terasa semakin lama semakin basi dan ternyata tidak dapat mengakomodir pluralitas tersebut.

karena pada akhirnya media komputer dan media teknologi lainnya berfungsi untuk meminimalisasi fisik kita, untuk lebih berpikir secara konseptualitas, lebih menggunakan otak kita daripada otot yang terkadang tak sanggup dan tersita untuk menyelesaikan pergulatan, terhadap apa yang dikatakan teknik dan kemampuan manual tersebut. dan lebih mengacu pada intensitas karya dari (sang) perupa itu sendiri lepas dari seluruh permasalahan mediumnya. (ANONIM)

Januari 10, 2010 - Posted by | Artikel | , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: