Tips Sang Guru

Blog seorang guru yang ingin berbagi dan belajar bersama

KAJIAN SENI RUPA (2) :development of modern art – seni sebagai salah satu opsi untuk komentar sosial

diskusi bersama brant Connors,

Renaissance 1 malang art exhibition, bengkel malang bersatu racing, 7 april 2003, 19.00 – 21.00 wib.

satu

diskusi yang dilakukan bersama waktu yang sangat sempit sekali malam itu, tampaknya tak cukup untuk menjawab pertanyaan sesungguhnya dari brant connors. entah mungkin karena gaya bahasa yang digunakan beliau tidak cukup menjelaskan artikulasi tulisan sebagai pengantar teks, atau mungkin memang itu yang diinginkannya: diskusi berjalan secara interaktif dan teks hanya sebagai rujukan minimalis, atau pula contens yang belum terlalu akrab untuk dipahami oleh peserta diskusi?

saya tidak akan menjawabnya secara harfiah di sini, karena tidak cukup kompetitif. mungkin lebih tepat bercerita, atau menguraikannya ulang dan segenap kemungkinan lainnya.

mungkin (pula), interpretasi yang saya dapatkan kemudian ini, terpengaruh oleh informasi teman saya bahwa brant Connors adalah seorang pemerhati ataupun pelaku conceptual art. dan karena itu tulisan ini akan dimulai dari sana. lepas dari pertentangan modern art yang bagaimana yang dimaksudkannya, karena sekali lagi, saya tak ingin terjebak dengan wacana modern vs postmodern yang tentunya akan menghabiskan kalori saya.

…………………………………………………………………………………………………………………………………………

semula memang apa yang saya tangkap dari conceptual art adalah semacam fetish, kecintaan tak terjelaskan terhadap sesuatu, yang akhirnya lebih berbicara secara simbolis terhadap keberadaan benda-benda sebagai perwujudan karya seni. namun, jelas bukan itu ternyata (walaupun tidak semua) karena diskusi ini jelas membuka interpretasi saya dan anda yang hadir tentunya untuk melihat permasalahan dari sisi lain.

apa yang dikatakan oleh brant connors memang berada di seputaran ide. ia pun kemudian sempat mengulas ide dengan contoh lain di luar apa yang dikatakan sebagai “seni”, yang sempat membingungkan peserta diskusi juga (termasuk saya) ternyata. seingat saya, ia mengatakan (juga bersama pengaruh interpretasi saya), bahwa proses ide dalam karya juga dapat dilihat dari kejadian-kejadian lain, contoh yang diberikannya adalah peristiwa pemboman bali. dimana proses ide yang terjalin kurang lebih dapat ditangkap memiliki keserupaan dalam proses ide sebuah seni. di mana konsep dan ide terjalin, lalu dikemas dalam wujud untuk kemudian di sampaikan ke masyarakat luas. interpretasi saat itu memang kemudian lebih tertuju pada pertanyaan, apakah peristiwa pemboman itu adalah karya seni? walaupun apa yang saya tangkap adalah bahwa proses tersebut memiliki keserupaan pola seperti yang saya jelaskan tadi.

…………………………………………………………………………………………………………………………………………

conseptual art memang lebih berbicara pada wilayah konsep, sementara benda hanyalah artefak atau bukti kehadiran dari konsep tersebut, karena konsep itulah karya seni sesungguhnya.

…………………………………………………………………………………………………………………………………………

seorang teman juga pernah mengatakan bahwa karya seni berada di dua wilayah, wilayah konsep yang melatarinya, kemudian wilayah visual yang mewujudkannya. dimana visual dapat berganti wujud mengikuti konteks tertentu. karena tentunya kemudian, ditolaknya sebuah karya seni, sering adalah sebagai penolakan wujud visual dari karya itu, bukan karya seni secara keseluruhan, karena konsep tentunya dapat memiliki wujud visual pengganti terhadapnya.

…………………………………………………………………………………………………………………………………………

permasalahan wujud visual, kemudian juga apa yang dibahas oleh brant connors malam itu. ketika bentuk visual kemudian sangat terpengaruh dengan berbagai macam konteks: sosial, politik, budaya, personalitas perupa sendiri dlsb.

…………………………………………………………………………………………………………………………………………

seorang teman juga pernah berkata dan mengecam apa yang dinamakan pendewaan konseptualitas (terlepas dari apakah itu termasuk conceptual art atau tidak). karena memang yang sering terjadi di indonesia (saya tidak tahu di negara lain) adalah konsep yang terlalu berat, yang kemudian di visualkan secara tidak seimbang. karena mau tidak mau, bahkan sebuah conceptual art pun kemudian berbicara mengenai pemilihan simbol.

simbol dalam seni rupa, atau mungkin pula secara filsafat adalah suatu tanda yang mewakili suatu makna tertentu yang dipercaya oleh sekelompok orang. semakin banyak orang itu simbol akan semakin kuat. di sini kemudian terjadi pengertian bahwa manusialah yang seharusnya lebih berkuasa dalam mengelola simbol-simbol tersebut.

kemudian, simbolisasi seni rupa tentu juga harus mencermati konteks sosial budayanya, karena tak semua memiliki interpretasi serupa atas kemerdekaan simbol tersebut. ada penuturan brant connors yang menarik malam itu. ia mengatakan semasa kuliah ia pernah membuat instalasi dengan salib besar diletakkan di center point kampus. sebagian orang mengacuhkannya, sebagian orang merasakan keanehan, namun yang menarik adalah komentar dua kubu yang berbeda. yang pertama dari kalangan kristen yang marah besar karena simbol agamanya digunakan dan merasa dilecehkan, yang kedua adalah kalangan atheis, yang (juga) marah karena mereka tidak menyukai ada kampanye agama di dalam kampus(!).

seorang damien hirst pun (yang menurut saya juga seorang conceptual artist) bersama seniman lain dalam pameran “sensation”, pernah diprotes secara langsung oleh ibu hillary clinton dan p.e.t.a (people for the ethical treatment of animals), dimana pembicaranya mengatakan: “karya damien hirst lebih dari sekedar perlakuan kriminal terhadap binatang, ia merayakan penyiksaan binatang di muka umum” yang kemudian dibalas hirts dengan ringan: “yayasan-yayasan seperti itu biasanya cuma cari muka saja di depan masyarakat. lagipula ada sisi baiknya bagi kalian. saya menjadikan lebih banyak lagi vegetarian di muka bumi ini setelah melihat binatang-binatang itu…”

jika melihat dua kasus di atas, tentunya kembali mengenai perbedaan persepsi. di mana jelas lokasi mempengaruhi persepsi dan kemudian mempengaruhi bentukan visual yang dipilih sebagai perwujudan karyanya. terkadang memang visual karya menjadi pengambilan begitu saja tanpa kontemplasi mendalam, sehingga banyak kita jumpai bentukan stereotype memenuhinya. tentunya ini adalah pendewaan konsep seperti yang dikatakan teman saya tadi.

selain perbedaan persepsi, brant connors juga mengatakan tentang pembebasan visual, yang sebenarnya dapat bermain-main dalam wujudnya sendiri: apakah kita memberontak dengan tetap berada di wilayah lama (sebatas bingkai lukisan dan bentuk masif patung), atau mencoba wilayah baru yang kontroversial sekalian, atau menggunakan wujud-wujud sehari-hari dengan konsepsi baru (seperti contohnya terhadap hammering man dalam lampiran makalah). dan seorang damien hirst (lagi) juga mengatakan: “hal-hal yang sangat biasa bisa sangat menakutkan. misalnya sebuah sepatu, yang fungsinya mengantarmu dari satu tempat ke tempat lain atau sebagai alat untuk bergaya. tetapi dikala sepatu itu digunakan untuk menendang kepala pacarmu, sepatu itu menjadi sesuatu yang gila. perubahan fungsi seperti itulah yang mengerikan… dan itulah yang dikatakan seni…”

dua

pada akhirnya simbol memang terpengaruh pada konteks-konteks penyertanya. bahkan tidak sebatas konteks religi yang sangat kuat dan ditakuti untuk diambil sebagai simbol dalam media apapun di indonesia, namun juga keberadaan simbol-simbol lain yang tanpa kita sadari hidup sebagai keseharian kita. seperti yang dikatakan oleh branct connors dalam makalahnya, andy warhol juga mengambil kembali kekuatan seni dari advertising dan dunia hiburan lainnya. ia memparodikan dan mengejek posisi seni yang dikatakan tinggi, sekaligus memutarbalikkan fakta kebudayaan hiburan yang erat kaitannya dengan kapitalisme dalam meneror visual masyarakatnya. dan dapat menaikkan derajat finansialnya secara lebih gemilang di bandingkan kebudayaan yang dicurinya itu sendiri.

pemanfaatan atau redefinisi simbolikal tersebut juga terjadi pada pemberontakan yang dilakukan terhadap persepsi atas video. dimana video yang selama ini hanya (dan selalu) digunakan sebagai media informasi dan hiburan serta erat kaitannya dengan factor kekuasaan kapitalis, kemudian diwujudkan menjadi media seni. nam june paik pada tahun 1960-an (kalau tidak salah) mendapati magnet yang mampu merubah gambar teve menjadi meliuk-liuk, ia kemudian memandang bahwa ternyata video juga dapat menjadi media personal. yang otonom dan murni ekspresif tanpa campur tangan kuasa. di sini, pembalikan kemudian tidak hanya terjadi atas konsepsi media itu dalam menjadi

karya seni, namun juga efeknya terhadap posisi seniman itu sendiri. media video di indonesia sebagai media baru (dan karenanya tidak masuk kurikulum akademis), hal ini membuka kemungkinan luas bagi seniman di luar akademis untuk turut berkarya.

tiga

melihat kembali kenyataan tersebut, hmm.. sebenarnya saya benci bicara nasionalis, namun pada akhir diskusi malam itu ada perbincangan itu. yaitu tentang bagaimana posisi karya seni rupa indonesia itu sendiri di luar negeri? brant connors mengatakan bahwa itu sangat relatif, karena menurut saya juga (walaupun banyak polemik tentang itu), seni rupa Indonesia sudah go internasional (bahkan heri dono dikatakan lebih sering pameran di luar negeri daripada di dalam negeri). factor penerimaan itu pun olehnya dikatakan relatif, karena penerimaan di luar adalah penerimaan secara subyektif. seperti layaknya di sini, jika dikatakan disukai, ya disukai bagi orang yang memiliki nilai ketertarikan yang serupa, dengan apa yang ditawarkan oleh seniman Indonesia (masih dari brant connors).

kemudian pertanyaan (kalau tidak salah) berlanjut tentang apa yang sesungguhnya layak ditawarkan dalam medan internasional. saya berpikir lagi, masalah ini sebenarnya masalah tersendiri. karena jika kita bicara masalah ini, masalah hybrid, tentunya akan panjang lagi, dan saya bisa pingsan menulisnya.

namun mungkin memang terdapat beberapa hal yang salah kaprah di situ, karena bargaining internasional memang sangat berbeda. seperti yang terjadi pada seniman-seniman yang go internasional: mereka berada pada dua sisi, di satu sisi membawa identitas, di satu sisi membawa keterbukaan personal serta keinginan untuk diterima dalam kompetisi. namun saya tetap berkata, bahwa eksotisme yang dimiiliki secara lokalis (dengan tetap memperhitungkan faktor lain, seperti personal) bersama kejujuran (walaupun bukan sekedar eksotisme jadi-jadian dengan hanya menumpang simbol lokal), itulah yang menjadi nilai tawar. karena terdapat perbedaan yang sangat jelas pada masing-masing negara yang memiliki pengalamannya sendiri atas budaya visualnya.

empat

pada akhirnya permasalahan simbol, tanda, konseptual dlsbnya ternyata cukup memusingkan. bahkan tulisan ini pun pada akhirnya kacau secara jurnalistik. namun, di antara jutaan tanda dan konsekuensi (serta di zaman yang memungkinkan anda untuk bebas memilih dan menjadi apapun), kesadaran memilih visual (ataupun

mempertautkannya dengan konsep), serta sinkronitas terhadap kondisi lingkungan sosial-budaya, menjadi sebuah ranah kejujuran yang hanya kita sendiri yang tahu jawabnya.

akan menjadi seniman seperti apakah anda? apakah seorang conceptualist salah kaprah yang berbicara layaknya filsuf, namun dengan visual yang rendah secara estetik dan artistic? ataupun peminjaman stereotype-stereotype sebagai pembelaan atas komunikatifisme dan perayaan memori kolektif publik? atau conceptualist realist yang juga memperhatikan bagaimana simbol-simbol tersebut bekerja secara lokasi, sosial, budaya? dan bagaimana memberikan makna baru di dalamnya dan merubah pandangan mengenai simbol itu sendiri (bahwa simbol adalah simbol, bahwa benda adalah benda, yang sangat mungkin dimuati oleh ragam makna, sesuai dengan pengalaman jutaan umat manusia di dunia ini. dan kenyataan pertanyaan atas benda itu menjadi lebih diperhatikan jika berada dalam wacana seni, menjadikannya potensial untuk diperdebatkan)? atau seorang yang gagah berani di medan tempur seni untuk menjadi kontroversial bersama permainan simbol-simbol yang sangat dilindungi pemerintah/masyarakat (dan atas dasar apakah: tuntutan pasar dan media, kompetisi posisi atau idealisme)? karena ledakan ide yang baru, mau tak mau memang menjadi kontroversial, menjadi perdebatan. yang menentukan dan sangat berbeda adalah: sejauh mana anda tahan berada di wilayah yang kontradiktif itu, hanya demi mengemban idealisme anda? dengan tentunya melihat kenyataan bahwa bahkan (menyimak yang dikatakan brant connors pula) seniman-seniman di luar tetap tidak dapat hidup dari karya seninya, bahwa menjadi full-time artists itu sangat berat, bahwa idealisme dan realitas adalah musuh bebuyutan yang tak pernah mau berdamai, sekalipun dalam mimpi indah anda.

lima

…………………………………………………………………………………………………………………………………………

setelah basa-basi yang terlalu panjang, tibalah kita pada pertanyaan final di sesi terakhir yang tak sempat terjawab malam itu (lihat dua paragraf terakhir dalam makalah brant connors).

…………………………………………………………………………………………………………………………………………

jika kita berbicara seperti ini, saya jadi teringat perkataan seorang teman, yang mengatakan sejarah di indonesia itu over lapping seperti kue lapis, sehingga tingkat apresiasi publik tak pernah sepadan dengan senimannya. kita tentunya tidak akan berbicara ini pula, karena untuk lingkup malang pun, jangankan komunikasi antara lapisan tersebut, namun bahkankomunikasi antar seniman pun masih sangat berjarak hingga kini.

seseorang (lagi) pernah berkata, bahwa di malang obrolan tentang seni rupa tidak berjalan dengan baik. maksudnya, pertemuan lebih banyak berbicara tentang seni rupa dari kulit luarnya saja. jarang sekali mendiskusikan tentang

(seperti) apakah korelasi seni rupa penyadaran dan seni rupa dewasa ini, ataukah tentang stereotipikal yang begitu suntuk telah saya ulang-ulang sebelumnya.

di samping itu, tidak ada pola kritik yang cukup tajam di sini. seorang kurator pun keberadaannya seperti seorang penjaga gerbang kematian. dari perbincangan sebuah sore beberapa hari lalu, sepertinya pameran seni rupa tidak

menghasilkan apa-apa selain perayaan dan aktualisasi diri. karena bahkan seringnya sebuah diskusi pun akhirnya melantur membicarakan hal-hal di luar ruang pamer dan memperdebatkan apa yang mestinya belum lagi layak kita urus, kalau untuk masalah kekaryaan saja kita masih gagap menyikapinya.

mungkin faktor kritik itu erat pula dengan penghargaan. dan penghargaan yang saya maksud di sini bukan seperti budaya nerimo dan sungkan berlebihan dalam budaya jawa, yang akhirnya menjurus ke hipokritisitas. bahkan untuk mengkoreksi sebuah karya saja kita masih malu dan takut salah kata, apalagi untuk memuji karya teman sendiri. karena sepertinya sebuah pujian dicurigai berpotensi meninggikan hati.

ada pula yang menarik terjadi di kota lain (saya tak akan menyebut lokasinya), dimana bahkan antar seniman sendiri telah memiliki rasa menghargai dan rasa ketertarikan layaknya fans terhadap sebuah band. di mana kemudian ia mengidolakan teman sendiri dalam hal profesi. di sini tentunya dapat dilihat, terjadi kompetisi secara sehat, di mana memang hal itu harus ada dalam mengukur kualitas. sementara mungkin di malang baru sampai pada tataran tampil, sebuah pencarian tanpa tanda dan jejak apapun menyertainya.

jadi sesungguhnya belum saatnya kita berbicara tentang seni rupa dan masyarakat, karena kita belum tiba pada situasi tersebut. bahkan issue feodal sempat terbersit bebarapa hari lalu, mengenai dominasi seniman tua dan seniman akademis. suatu polemik tak berkesudahan yang anehnya juga tak kunjung diakhiri. karena semuanya serba salah. di saat mengatakan ada dominasi akademis, seniman non akademis juga tak kunjung menunjukkan kualitas dirinya, dan praktek seniman akademis selalu melonggarkan peraturan atas dasar koneksi. dua hal yang sama sekali tidak bisa disebutkan dimana letak kesalahannya. karena ternyata di antara masing-masing bagian itu, juga memiliki factor penghargaan yang rendah terhadap usaha apapun yang dilakukan sesama rekan.

sebuah pameran tentunya tidak hanya dihadiri sebagai perwakilan komunitas, tapi layaknya dihadiri sebagai ketertarikan terhadap gejala baru secara individual. dimana kemudian komunikasi terjalin tidak sebatas orang yang itu-itu saja (di mana yang saya tangkap lebih intens pada orang-orang yang memiliki posisi penting di masing-masing komunitasnya saja). hal disini juga tidak bisa sangat disalahkan, karena dalam “politik” profesi, tentu ada seorang humas yang mengkomunikasikan keberadaan kelompok terhadap anggota lain yang lebih mengurus sebuah rumah tangga (kenapa jadi seperti pembahasan organisasi?).

kondisi seperti ini cepat atau lambat harus diakhiri. sebuah pameran tidak hanya lantas menjadi ajang reuni orang-orang tertentu dalam komunitas seperti hal di atas, atau sekedar penghormatan penuh bas(a)i-basi bersama perwakilan anggota demi absensi komunitas di buku tamu. namun lebih berlanjut ke tataran diskusi yang mendalam, di mana konsepsi seni rupa dapat dijabarkan dan diuraikan secara terbuka tanpa malu-malu, atau pun ketakutan kehilangan kharisma ketika salah kata terjadi. karena seperti yang biasa dikatakan: kita sama-sama belajar dari pengalaman.

ketika itu sudah terjadi, mungkinlah itu saatnya untuk mengapresiasi kualitas karya, mendeformasi pemainan tanda-tanda sebagai daya ungkap visual yang maksimal dari konseptualitas personal. sehingga mungkin dari situ, dapat tertemukan pola-pola individual yang terlatih dengan sendirinya dalam mempertemukan apa yang dinamakan sebagai kebebasan visual karya, yang lahir dari observasi mendalam. di samping referensi, yang kemudian mengkomunikasikan bagaimana pengaruh lokalistis dalam struktur tanda, dan bagaimana pula struktur tadi dapat dicampurkan tanpa kehilangan (apa yang sering kita agung-agungkan sebagai) identitas. karena identitas baru dapat dibicarakan ketika tingkat apresiasi yang dimiliki antar seniman tidak memiliki jarak yang terlalu dalam, sebelum terlalu bijak untuk membicarakan permasalahan antara seni rupa dan masyarakat. setidaknya benahilah rumah sendiri dulu sebelum menculik istri tetangga ke rumah anda.

…………………………………………………………………………………………………………………………………………

dan karenanya, benarlah jika kita (hanya) menjawab pertanyaan seorang brant connors di dalam hati malam itu.

Januari 10, 2010 - Posted by | Artikel | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: