Tips Sang Guru

Blog seorang guru yang ingin berbagi dan belajar bersama

KAJIAN SENI RUPA (3): Video Art

Video art, sebagai bentukan representasi yang berbeda, serta menjadi perbincangan hangat kini, memang menyisakan tanya berlebih pada usaha penggalian di setiap sisinya. Keberadaannya – yang dapat dibilang tidak tumbuh dari sesuatu yang baru – timbul sebagai perlawanan. Seperti diketahui bahwa media video selama ini memang telah lama difungsikan demi berbagai kepentingan, menjadi sebuah film, iklan, ataupun berita. Sehingga orang memandang bahwa itu terjadi begitu saja dan sudah berfungsi sebagaimana layaknya mereka lihat dalam realitas. Masyarakat percaya bahwa video hanya sebagai alat menyampaikan sesuatu dengan aplikasi yang mereka kenal. Terstrukturalisasikannya metode-metode komunikasi dalam video telah sedemikian merambah dan mengakar, hingga membatasi kemungkinan aplikasi dalam bahasan buku-buku penggunaan praktis film, televisi dan lain sebagainya, yang saya rasa sudah layak untuk dimuseumkan.

Realitas terbesar dalam video yang ada selama ini memang televisi (bahkan kenyataan bahwa televisi memakai medium bernama video tidak selamanya disadari, terbius oleh kekuatan kotak kaca tersebut), sementara televisi sendiri adalah produk kapitalisme yang dapat dibilang paling giat memprovokasi. Menyentuh segala lapisan, dan kehadirannya yang bersifat menyuguhkan, menjadikan benda masif itu aktif dalam menstimulasi persepsinya. Di sini, manusia mengira bahwa mereka memiliki banyak pilihan – heterogenitas kebutuhan mereka akan hiburan dan informasi terpenuhi – sementara slogan konsumen adalah raja itu sendiri adalah palsu, karena yang diperoleh tak lebih dari kebebasan dalam keterbatasan. Seluruh acara yang ada memang ditujukan untuk

penonton, namun kelayakan, kepentingan yang ada di balik itu pun aktif mengkonstruksikan pemenuhan program tersebut akan menjadi apa. Dan keuntungan yang sering menjadi landasan – disertai kesulitan meraba tingkatan keinginan penonton, serta sensus mayoritas sebagai jalan termudah – menjadikan proses degradasi selera dapat masuk tanpa terasa melalui sinetron-sinetron, iklan-iklan tak bermutu dan berita-berita penuh sensor.

Kekuatan persepsi memang dipercaya hadir lebih besar melalui visual. Di sini kita dapat melihat bagaimana kebijakan-kebijakan tersebut mengontrol penuh serta mengeneralisasikan selera dalam satuan yang besar, yang sebenarnya merupakan deteksi tak berdasar. Sehingga televisi sendiri pada akhirnya tak mampu mewadahi heterogenitas kepentingan tersebut, baik kepentingan produsen ataupun masyarakatnya sendiri yang tak memiliki hak, yang kebebasannya hanyalah sebatas channel yang dimiliki, atau tidak menonton sama sekali.

Ketidak-bebasan tersebut, sekali lagi, merupakan peluang terbesar yang secara tidak sadar menyimpan potensi manipulatif dan intimidatif. Hal ini memang sudah sedikit berkurang semenjak reformasi serta munculnya berbagai program televisi swasta yang otonom dalam masalah pemberitaan. Namun disadari atau tidak, “tangan-tangan tak nampak kekuasaan” – dimana prakteknya paling besar adalah selama masa orde baru – aktif mengaplikasikan hal itu dalam manipulasi informasi, terutama dalam tayangan berita, atau intimidasi secara tidak langsung seperti yang dilakukan oleh pemutaran film G 30 SPKI setahun sekali selama kurun waktu yang lama menjadi mengerikan.

Keterkaitannya secara langsung, adalah kekuatan persepsi yang lebih besar hadir melalui visual tersebut. Di mana “sifat melihat”, yang selalu terkait erat dengan budaya, lokasi, serta persepsi individual yang kental, dicoba untuk diseragamkan dalam satu persepsi general. Manipulasi berita melancarkan satu informasi absolut untuk hal tersebut. Begitu juga dengan cuci otak film G30 SPKI yang kemudian mengubah persepsi indera kita mengenai keberadaan komunis. Di situ, citra yang semula sangatlah persepsional, dicoba – dan berhasil – dikhususkan menjadi citra kolektif, memori kolektif yang memiliki persepsi general, sesuai yang diinginkan sebagai suatu propaganda.

Keberhasilannya, sangat jelas, dikarenakan sifat representasi televisi yang langsung mengarah secara personal. Karakter televisi yang mampu ditonton oleh orang banyak dalam satu waktu, merupakan media propaganda yang sangat ampuh. Walaupun ilusi yang tercipta memang sebatas informatif (yang manipulatif), hanya terkait secara material tampakan citra, belum mencapai sisi psikologisnya secara lebih dalam, suatu hal yang akan dibahas lebih lanjut nanti.

Kehadiran stasiun televisi swasta yang beragam sekarang – dengan spesifikasi programnya sendiri-sendiri pun –, tampaknya masih memerlukan waktu panjang untuk mengubah pola “kesadaran melihat” yang telah lama dikuasai tersebut. Adapun kejujuran informasi, tidak serta merta dapat langsung dipercayai karena pemiliknya lebih otonom ataupun hal lainnya. Kepercayaan tetap bersifat pasif, karena masyarakat tidak memiliki daya, selain melihat begitu saja terhadap informasi yang diberikan. Sehingga dalam hal ini, pola penglihatan, pola kesadaran akan persepsi citra tetap sama. Yang kalau bisa saya jelaskan: mengalami pola yang tetap, dengan muatan informasi yang (mudah-mudahan) berbeda.

Di sini, program-program yang dimiliki televisi, sangatlah kurang kalau dikatakan telah memenuhi semua kebutuhan manusia. Lebih tepat jika dikatakan: kebutuhan yang diadakan, suatu “hal” yang ditasbihkan menjadi kebutuhan pada masyarakatnya. Acara-acara yang ada, kurang-lebih memang menjembatani kehausan penonton akan informasi dan hiburan. Tapi kenyataan yang terjadi hanyalah sebatas perwakilan. Seperti juga aspirasi yang diwakilkan DPR untuk rakyatnya, yang kemudian melahirkan kebijakan-kebijakan semu dan berpihak. Televisi pun hadir dengan pola serupa, walaupun terbungkus oleh sisi citranya yang menggoda. Ia melahirkan konsepsi budaya sendiri.

Hal tersebut juga sangat jelas terlihat pada pola representasional dalam film. Di mana sebenarnya pola film tersebut, juga melatih indera siapapun, untuk melanjutkan pola tersebut pada pola informatif dalam berita.

* * *

Film sendiri, merupakan realitas kehidupan yang berusaha dirangkum menjadi kehidupan lain, menjadi suatu cerita tersendiri. Suatu realitas yang diciptakan. Di sini, ideologi kemudian menjadi landasan penting, tentang akan diarahkan ke mana “realitas tercipta” tersebut. Hal yang sangat riskan adalah sinetron kita selama dekade terakhir ini, yang melahirkan realitas semu. Sehingga melahirkan konsepsi baru terhadap kebudayaan yang ditampilkan, sehingga bagi orang yang tidak mengetahui “realitas tercipta” tersebut, akan menganggapnya sekaligus sebagai media informatif. Kehidupan orang kaya di perkotaan dalam sinetron, dengan serta merta akan sekaligus dianggap informatif oleh masyarakat pedesaan. Seakan-akan memang seperti itulah realitas yang ada. Bahwa orang kaya tetap menggunakan kebaya dalam rumahnya, atau sarapan yang membahana dengan balutan ragam buah-buahan sebagai pencuci mulutnya. Sebuah realitas yang diciptakan bahkan oleh orang yang tidak mengerti kebudayaan orang kaya itu sendiri.

Selain itu, film pun kemudian melahirkan pengulangan-pengulangan “realitas” yang serupa. Persepsi “happy ending” sebagai kelayakan kualitas film, jurus tiga babak (pengenalan, konflik, penyelesaian konflik), unsur narasi yang harus begitu informatif melalui ucapan dalam skenario (penonton tidak dilatih mengenali karakter dari mimik ataupun ekspresi), ataupun citraan kebudayaan yang salah kaprah seperti yang dijelaskan di atas.

Hal itu tidak hanya menjelaskan kurangnya kreatifitas dalam budaya film sendiri (karena itu tidak akan dibahas di sini, bersama gerakan sinema independennya yang membahana pula itu), namun juga mengkonstruksikan bahwa hidup pun dapat seperti itu. Bahwa hidup yang susah akan selalu happy ending sebagai suatu keberhasilan, bahwa pola masalah tidak hadir secara abstrak, namun secara tiga babak tersebut, ataupun pengenalan karakter dalam bersosialisasi yang hanya mengandalkan kemampuan verbal, tidak lagi persepsi dan interaksi psikologis melalui citra ekspresi manusianya.

Belum lagi jika itu kembali dipersulit oleh saluran hiburan-hiburan di televisi, standarisasi terhadap selera komunal, yang tentunya tak akan sanggup menjembatani heterogenitas masyarakatnya. Kita ketahui seperti pola-pola konsumtif yang timbulkan oleh iklan, menciptakan kebutuhan baru, sekaligus merombak pola kebutuhan kuno (primer, sekunder, tersier) menjadi tidak berarti.

* * *

Terstandarisasinya program-program televisi, mengaburkan apa yang dikatakan “intensi psikologis personal” terhadap citraan, terhadap bentuk imaji yang dimiliki oleh setiap manusia sebagai bagian ekspresi dirinya. Kita tidak usah kembali pada kecanduan TV akut yang berakibat kemalasan intelektual akibat imbas sifat informatif televisi lagi, namun mencoba untuk memahami bahwa manusia memiliki “hal” tersebut. Khayalan-khayalan, perasaan yang tak terpuaskan, logika personal akan bentukan sebuah dunia sesungguhnya yang diinginkan secara pribadi. Sehingga angan-angan itu tidak dirusak oleh gigantisme programatisasi televisi.

Apa yang dikatakan citraan sebagai persepsi personal tersebut, melahirkan konsekuensi akan kemampuan melihat tanda-tanda, simbol dalam interaksi sosialnya. Bahwa prestise tidak lantas disimbolkan menjadi keserta-mertaan hadirnya sebuah ponsel, ataupun benda-benda elektronis lainnya, atau keberhasilan selalu dikaitkan dalam nilai kapital dalam praktek hidupnya (hal-hal yang dikatakan si cantik dewi lestari sebagai imagosentris). Sehingga dengan jelas televisi sebagai media paling aktif, berpotensi besar dalam merusak intensi citra dalam diri manusia tersebut, jika tidak dilandasi akan paradigma berkehidupan yang kuat akan adanya perubahan.

* * *

Resistensi video art – jika dapat dikatakan seperti itu – terhadap budaya televisi atas pe-medium-an sepihaknya terhadap video, memiliki landasan bahwa video dapat berdiri sendiri dan pada dasarnya adalah media komunikasi – layaknya personal video di lingkungan keluarga – lepas dari keterkekangan struktural dan ideologi. Video tumbuh independen, murni untuk mengekspresikan makna dan pesan, dari siapa saja, yang dalam konteks ini adalah perupa. Namun kehadirannya sendiri kemudian memiliki efek yang sangat besar. Hal ini terlihat dari luasnya kemungkinan siapa saja yang mampu merepresentasikannya sebagai video art. Sehingga terbukanya cakrawala baru dalam segi representasi, tidak hanya melepaskan batasan terhadap kekangan media itu sendiri, namun juga pada pelaku: melepaskan batas akademis yang sampai kini mendominasi dunia seni rupa. Karena dasar teknis video sebagai medium representasi seni, masih menjadi sekedar alternatif, belum dikonsensuskan sebagai kurikulum dalam institusi.

Sedangkan usaha penggalian representasi yang dimiliki secara esensial sendiri, tetap tak bisa lepas dari perbandingannya dengan media lain. Tanpa mendiskriminasikan, terciptanya teknologi merupakan esensialitas tersendiri yang terkadang mis-korelasi dengan seni rupa, dianggap berjalan sendiri, dan semestinya mulai disimak kembali kausalitasnya, berdasarkan pertanyaan sekaligus pernyataan: Bagaimana suatu media teknologi dapat menampung dan menjalankan sistem-sistem ekspresi dalam wacana yang sama sekali berbeda.

Sistem logika antara video, dengan media lain, seperti lukis memang berbeda. Sekalipun video merefleksikan unsur tiga dimensional dalam bingkai kaca dua dimensional seperti lukisan, namun selain unsur gerak, waktu, sound dan kemampuan merekam realitas secara berbeda, merupakan hal mendasar yang tidak mampu diwadahi oleh media lukis, ataupun patung dan instalasi (yang walaupun tiga dimensional, juga dapat saja bergerak, namun tidak memiliki kaitan waktu terhubung). Dalam hal ini sisi representasi yang berlebih dengan ribuan teknis dan display, membuat tatanan konseptualitas tidak lagi harus berjalan linier antara perupa dan karyanya. Namun mengalami perjalanan yang penuh akan feed back, terkait dengan sisi presentasi yang sangat beragam dalam video tadi.

Dalam lukis serta keterkaitan fotografis, dimana kemudian kita kenal dengan sebutan digital art, orisinalitas kemudian menjadi nihil, ketika suatu citra dapat diambil sebegitu rupa, dari mana dan milik siapa saja. Di sini peran seniman lebih kepada organizer “realitas terpilih” untuk dikelola dengan konsepsi baru. Walaupun menurut saya, tidak ada yang utuh orisinal. Lukisan sekalipun, tetap menggunakan memori personalnya yang juga meminjam realitas dunia yang pernah diingatnya untuk kemudian ditampilkan. Kesadaran olahan dalam digital art, juga tentunya video art, membangkitkan sifat bongkar pasang layaknya puzzle dalam kondisi yang dapat diperbaiki, dapat diedit, suatu nilai yang tak ada dalam lukisan karena perbaikan tak dapat berlangsung secara sempurna.

Kesadaran ini, yang sempat dilecehkan secara teknis, secara langsung kemudian juga meningkatkan intensi daya cipta. Kesadaran bahwa karya dapat diperbaiki, membuat kreatifitas dalam mengolah citra – agar sesuai dengan apa yang terbayangkan – menjadi lebih besar. Dalam video art, kesadaran ini dipadatkan dalam unsur durasi yang membingkai satuan waktu representasinya. Adanya durasi, yang tak dimiliki oleh media konvensional lainnya, mendua-kali-lipatkan intensi daya cipta tersebut dalam editing, hingga mendapatkan ketepatan formula sebagai efektifitas olahan citra secara konseptual ataupun representatifnya.

Efektifitas citra tersebutlah yang kemudian melahirkan konsekuensi proses dokumentasi atau perekaman bahan citra menjadi beragam. Mengingat kemampuan kerja editing video dalam pengolahan citra dengan efek tertentu, pada akhirnya menentukan pilihan: dengan cara apa citra akan diambil? Antara kesadaran menciptakan citra, menggunakan citra seutuhnya, atau mendeformasikannya menjadi citra baru?

Dalam hal kesadaran mencipta yang “terasa” lebih utuh dalam “lukisan sebenarnya” (tanpa kolase, atau bantuan fotografis lainnya), saya melihat tetap ada kemiripan walaupun salah satunya terasa metafisik. “Lukisan sebenarnya” mengolah citra di dalam benak perupa, di mana citraan tersebut pun diambil dari khayalan, atau pun dari realitas terekam. Dalam video art, penciptaan citra itu pun berlaku pada pola yang sama: penciptaan citra lahir dalam proses digital (mencipta, seperti mencipta animasi), atau mengambil bahan berupa citra lain (citra-citra curian: non-orisinalitas, citra dokumentasi, atau imajinasi perupanya sendiri) yang disesuaikan dengan konseptualitasnya seperti layaknya lukisan. Pemadatan durasi dalam video art sendiri mungkin berlaku sebagai pemadatan citra dalam luas media kanvas dalam lukis, ataupun dimensi dalam installation art.

Namun, itu tetap merupakan usaha menyamakan secara dasariah, untuk sekedar menyamarkan keanehan medium video art sendiri atas korelasinya dengan medium pendahulu. Pada akhirnya, waktu, durasi dan sound tidak sesederhana itu melahirkan konsenkuensi logis–unlogisnya dalam sistem representatifnya. Ia kemudian menimbulkan kerumitan tersendiri, terkait dengan pola-pola terdahulunya di mana pengaplikasian video itu sendiri dahulu tergunakan.

* * *

Dalam video art, kemampuan video itu sendiri telah membunuh realitas dan makna tunggal. Jika bahkan dalam media seni rupa yang lain dapat menggunakan berbagai macam gaya visual dalam satu obyek, video dapat menggabungkannya dan dibelit oleh kekuatan waktu. Sifat representasional yang menetap pada media seni rupa lain yang menjadikannya begitu pasif dan masif, tidak dimiliki oleh video karena video menampilkan citra yang bergerak, dimana pergerakannya menjadi kebebasan penuh bagi kita untuk menangkapnya kapan saja. Sehingga di satu sisi video merupakan media yang aktif sekaligus interaktif dalam merespon persepsi, namun kesempatan menangkap citra ataupun makna, kembali lagi tergantung pada kita untuk mencermatinya. Hal ini, sangat membuka begitu banyak realitas sekaligus mencampur-adukkannya.

Selain pencampur-adukan image tersebut, saya berpikir pergerakan – sekali lagi erat sekali dengan waktu – merupakan salah satu unsur pembeda selain sound. Unsur gerak sendiri secara langsung telah membawakan konsekuensi waktu (baik waktu gerakan ataupun waktu pengamat memandangnya). Gerak, selain menyajikan visualisasi yang lebih menarik (bahkan dalam gelap pun mata masih dapat menangkap gerak), juga menimbulkan persepsi tersendiri akan berprosesnya suatu citra menjadi citra yang lain (lepas dari kesamaan bentuk kemudiannya dari citra pertama). Gerak juga menimbulkan realitas adanya suatu gesekan gerak tersebut, yang kemudian diidentifikasikan menjadi suara.

Sound (sebagai kata lain saya atas suara), merupakan ruang ekspresi sendiri yang mengkombinasikan antara tangkapan visual dan pendengaran bersama identifikasinya terhadap obyek representasi. Sound, dalam wacana gerak, menselaraskan waktu dan realitas gerak itu sendiri menjadi nyata. Gerakan menjadi lebih terlihat, lebih bisa dideteksi intensitasnya: dalam kaitan gerak cepat-suara pelan, dan gerak cepat-suara keras, ataupun kebalikannya. Sound sendiri pun kemudian dikembangkan – selayaknya film – menjadi media imajinasikal yang dapat berinteraksi secara responsif dalam membangun kesan: sound effect yang memperjelas khasanah sebab-akibat gerak dan realitas itu sendiri. Sound juga membangun kesan psikologis akan suasana yang ingin diciptakan, dalam bentukan film (pula), berupa soundtrack yang membantu (ataupun mengacaukan) peran serta kesan dalam penangkapan citra.

Pada akhirnya, sound ataupun gerak sendiri juga memiliki jutaan persepsi konsepsi dan aplikasinya. Adanya suatu sound pun tidak lantas menjadi kewajiban untuk digunakan semua, atau tidak sama sekali. Hal tersebut kembali terjalin bersama kebutuhan representasional yang diinginkan untuk diterjemahkan dalam wacana video art.

* * *

Mungkin sisi representasi yang lebih kita kenal saat ini pada video art adalah sebuah video installation, penggabungan instalasi dan video (walaupun saya sendiri tidak menyetujui perbedaan istilah ini, karena video pun merupakan bagian instalasi tanpa perlu pembedaan, namun tidak jadi masalah jika ini membantu percakapan menjadi lebih jelas), dimana instalasi mendukung secara material apa yang tak dapat ditampung oleh video. Unsur saling mendukung ini menarik, karena secara tidak langsung membuktikan sendiri betapa video – media yang terkatakan canggih ini – hanyalah sebuah media, yang mempunyai keterbatasan dalam menghadirkan efek material secara nyata, karena sekali lagi, ia hanyalah sebuah gambar “bergerak-berwaktu-bersuara” dalam sebuah frame.

Dalam video installation, keberadaan video tersebut tidaklah hadir secara utuh, keberadaannya lebih merupakan “alat bantu” dalam spesifikasinya akan waktu, gerak, sound, dan tangkapan visual yang hidup. Saya tidak mengatakan bahwa adanya video dalam installation tersebut hanyalah sekedar tempelan belaka, namun perlu disadari perbedaan representasinya yang lebih membebaskan.

Lebih membebaskan di sini adalah, dalam “video art utuh” (dengan screen ataupun televisi), unsur menonton menjadi lebih dalam. Konsekuensi logis yang dimiliki penonton untuk menerima visualisasi menjadi lebih siap, karena berhadapan dengan karya seni. Adanya kesiapan dan kesadaran menonton, membuat detail-detail visual dalam video art akan lebih tertangkap, bersama jutaan representasinya yang diaplikasikan bersama setiap unsur atasnya.

Dalam instalasi video, tidak ada unsur menonton yang baku, karena kebebasan sepenuhnya berada di tangan penonton. Video tidak berdiri sendiri, karena hadir sebagai kesatuan dengan instalasi. Sehingga apapun detail-detail imajinasikal yang ada dalam video, tetap akan dikorelasikan realitasnya dengan instalasi tersebut. Memang tidak ada jaminan bahwa apa yang saya katakan itu pasti terjadi dalam setiap representasi. Karena fokus yang akan dicoba ditonjolkan dalam karya selalu berbeda dan sangat tergantung pada senimannya. Bisa jadi video yang utama dan instalasi yang kedua, ataupun keduanya hadir secara bersamaan dalam pensejajaran prioritas.

Dan walaupun nilai kebebasan juga tetap dimiliki sepenuhnya oleh penonton kala menonton “video art utuh” (mereka bisa meninggalkan kegiatan “menonton” kapan pun mereka mau), namun saya rasa, esensi kebebasan yang dimiliki – baik oleh video installation ataupun performance yang menggunakan video (performance with video) – lebih besar, karena unsur kebersatuannya dengan “apa yang secara medium dipandang berbeda oleh penonton”, karena ia hadir bersama, dan tidak hadir sendiri selayaknya ditonton secara utuh. Dalam video installation, ataupun performance with video, unsur kebersamaan tersebut jelas pula memecah daya pandang dan daya tangkap, sehingga unsur kesiapan menangkap detail seperti yang telah saya disebutkan di atas menjadi lebih jelas. Tentunya tanpa pretensi untuk berkata bahwa video installation, ataupun performance with video merupakan penyelewengan representasi video art seutuhnya. Karena video sendiri pada akhirnya (semula awalnya) membebaskan diri untuk diterjemahkan sisi representasinya sebagai apapun, karena ia hanyalah alat komunikasi dalam segala hal.

Konsepsi komunikatif tersebut – beserta kesadaran bahwa media video mampu menerjemahkan apa yang tak dapat ditangkap oleh sifat representasional media lain – kemudian pula membuat tidak hanya konsepsi instalasi video saja yang merubah, namun juga pada video performance. Dan mungkin akan kita coba berbicara tentang esensi dasar performance itu dahulu sebagai perbandingan.

Dalam performance, unsur teaterikal (unsur live dan interaksi yang lebih kental karena berhadapan langsung dengan penonton, serta sifat tidak memiliki pengulangan kesalahan adegan) membuat konsepsi yang dimilikinya terasa lebih real, sangat responsif dan provokatif. Unsur durasi waktu di sini pun sangat pula mempengaruhi, karena penonton tidak bisa mengulangi adegan tersebut atas kehendaknya sendiri. Unsur real di sini kemudian dikorelasikan dalam wacana video art, sehingga menjadi satu istilah khusus tersendiri, video performance.

Menurut pandangan saya, sebenarnya performance dalam “video performance” pun juga merupakan salah satu strategi representasional yang dapat pula dimasukkan “hanya” dalam kerangka video art. Seperti kita ketahui, video art dapat merekam adegan nyata sesungguhnya, mengambil image, memprosesnya, ataupun menciptakan adegan (yang merupakan suatu performance pula). Namun atas dasar itu, ada suatu awal mula niatan yang berbeda pula antara keduanya, yang mungkin menerjemahkan alasan pendefinisian.

Jika kita coba sedikit mendefinisikan (kembali), “video art dengan pola representasi performance” menjadikan unsur performance itu merupakan bagian dari representasi, hingga pada akhirnya ia juga dapat bergabung dengan rekaman gambar lain, ataupun imaji-imaji terproses, untuk kemudian hadir sebagai video art. Namun dalam video performance, ada kesadaran lain untuk menampilkan performance secara lebih konseptual: adegan performance yang telah dirancang, dihadirkan dalam media video. Mungkin lebih mudahnya seperti eksperimentasi pada teater yang dicoba difilmkan, namun seutuhnya meninggalkan pola performance secara live sendiri, karena kemungkinan adanya pengulangan adegan menjadi ada.

Performance yang semula tidak mengenal adanya pengulangan adegan, dengan kesadaran bahwa dalam proses perekamannya dengan video (tidak adanya penonton, tidak adanya keharusan untuk tidak mengulang), menjadi dapat dilakukan berulang-ulang. Entah seutuh gerakannya dari awal, atau dengan melakukan ulangan hanya pada gerakan yang dirasa kurang pas. Ada konsekuensi cut, shooting dan editing seperti layaknya film di sana. Karena performance tersebut dikatakan “jadi” ketika seluruh proses video tersebut juga telah selesai.

Kesadaran pengulangan, dalam hal ini bukanlah kelemahan, namun semata adalah kesadaran untuk mengeksplorasi sisi representasi menjadi lebih terasah. Dan nilai-nilai ini kemudian pula menghadirkan konsepsi lebih jauh. Bahwa ketika biasanya performance hadir seutuhnya dalam frame realitas nyata serta interaksinya dengan publik, namun kini, performance hadir dalam bentuk video. Sehingga publik tidak terpancing secara real untuk menikmati performance (entah dalam frame stage performance: performance di panggung, dengan publikasi ataupun street perfomance: yang langsung menjemput ruang publik), namun video performance itu sendirilah yang hadir secara lebih personal (dalam bentuk video, yang kuasa putarnya lebih pada penonton), atau pula hadir dalam bentuk pemutaran (layaknya stage performance tanpa manusia nyata), ataupun juga menjemput ruang publik pula (dengan screen atau dinding gedung sebagai layar), ataupun merupakan penggabungan antara video performance dan real performance itu sendiri.

Disini memang termiliki perbedaan yang kemudian sedikit membingungkan, karena kita tak akan mampu membatasi sampai di mana jauhnya eksplorasi representasi itu sendiri berjalan. Namun jika dikatakan perbedaan, terasa lebih pada sisi dokumentasional, yang kemudian menyajikan performance tersebut dalam video sebagai ruang yang sama sekali berbeda: memiliki kesadaran pengulangan adegan, cut, shooting dan editing yang semula tak ada dalam real performance. Kesadaran dokumentasional itu pula yang kemudian menjembatani begitu banyak talian representasi atasnya. Sehingga detail gerakan dapat lebih dieksplorasi, dan dapat pula menjadi gabungan antara yang real dan yang tidak, bersama gabungan antara video performance dan real performance tadi.

* * *

Dari segi representasional video art, ada satu korelasi yang terasa sangat menyesakkan, yaitu adanya unsur waktu dalam bingkai durasi, yang ternyata melahirkan konsepsi tersendiri atasnya. Kenyataan adanya waktu tersebut, selain memberikan “batasan aksi representasional”, juga memaksa penonton untuk melakukan pemahaman lewat detik demi detik citra, kemudian pula menyisakan batas akhir dari konsekuensi durasi tersebut, yang membuat sisa pertanyaan ketika video art didapati telah selesai.

Pertanyaan-pertanyaan ini pun sebenarnya telah disadari sejak awal akan muncul, sehingga memaksa penonton pada awalnya untuk membingkainya dalam konsep “harus mengerti”, atau mencari petunjuk kemengertian di dalamnya. Selain akhir atau durasi itu sendiri, satuan waktu yang dimiliki melalui pergerakan ataupun pergantian citra, menyediakan waktu yang sedikit bagi audience dalam mencermati karya (berbeda dengan kebebasan menikmati lukisan, patung ataupun instalasi). Ditambah lagi kebiasaan dan sifat alamiah manusia untuk menganggap karya seni itu memiliki makna (tidak sebagai perasaan yang ditimbulkannya), menjadikan penonton memaksakan persepsi untuk mencari makna, sehingga efek visual yang seharusnya lebih menyentuh perasaan, terabaikan.

Sementara itu, selain kesadaran spesifikasi sifat representasional video art akan waktu, sebenarnya waktu (pun) merupakan wilayah yang dicoba didekonstruksikan oleh video art dalam memahami realitas. Selama ini, ketidak-sadaran akan waktu pun merupakan keanehan tersendiri bagi saya, justru ketika waktu tersebut ada dalam bingkai televisi dan tidak dirasakan keanehan di situ. Hal ini bisa dilihat, selain daripada televisi adalah media yang telah akrab, kesadaran untuk tidak mempertanyakan makna dalam media hiburan memang telah menjadi realitas. Dalam satu tayangan televisi, live (realitas nyata), replay (ulangan realitas nyata, rewind) dan relay (realitas yang ditunda, siaran tunda), dapat kita saksikan bersamaan tanpa menjadi keanehan. Masyarakat menganggapnya tak lebih sebagai kecanggihan teknologi dan merupakan keasyikan tersendiri, karena dapat lebih jelas melihat detail gol pemain sepak bola tercinta (replay) setelah adegan langsung (live), ataupun menyaksikan acara-acara luar dalam waktu berbeda di stasiun swasta lokal (relay).

Dan keanehan sesungguhnya adalah: ketika perubahan dan realitas waktu tadi tidak merupakan masalah dalam budaya televisi, tapi realitas waktu tersebut merupakan gangguan yang nyata dalam konteks seni – seni rupa – video art. Entah karena keanehan yang identik dengan seni, ataupun keberadaan waktu yang diacak sedemikian rupa dalam video art, agar realitas sesungguhnya yang tak tersadari dalam budaya televisi dapat terungkap, sehingga melahirkan persepsi baru?

Dekonstruksi waktu, yang sangat erat dengan realitas, dapat terlihat selain sebagai representasi, juga konsep landasannya dalam “12 Jam Kehidupan Agung Rai” oleh Krisna Murti pada tahun 1993. Ia merekam seluruh aktifitas Agung Rai dalam kehidupan normalnya selama 12 jam, dan dalam ruang pamer, ia memajang semua foto, rekaman video, dan bahkan kehadiran Agung Rai sendiri. Keadaan ini merepresentasikan tiga unsur waktu dan realitas sekaligus: kesan wilayah dalam dua truk sekam padi sebagai instalasi, waktu yang dibekukan (terekam dalam fotografi dan drawing), relay waktu yang bergerak selama 12 jam (video) dan “realitas obyektif” saat itu (Agung Rai yang nyata). Seperti juga tertulis dalam katalog pamerannya sebagai berikut:

“Seni terdiri dari imaji-imaji. Sebetulnya seni merepresentasikan realitas-realitas. agung Rai di atas kertas fotografi adalah realitas. Drawings tentang Agung, juga realitas. agung yang bergerak di dalam TV monitor kurang realitas daripada Agung yang asli? Jika realitas-realitas ini hadir simultan dalam ruang, apakah hal ini serupa dengan realitas kehidupan kita?”,

menjadi sebuah pengalaman yang hampir tak pernah dirasakan dan dicermati dalam hidup, dimana waktu dan realitas sering terasa berjalan sedemikian abstrak.

Mungkin memang baik apa yang saya utarakan, ataupun dekonstruksivitas realitas dalam “12 Jam Kehidupan Agung Rai” oleh Krisna Murti tersebut, sangatlah sepele dan terasa membuang waktu (kembali) dalam realitas yang begitu komplikatif ini. Namun tetaplah, kesadaran menyadarinya, sebagai suatu “realitas terlepas” yang luput dari eksistensialisme manusia, menjadi menarik ketika disadari “dicoba ungkapkan” oleh sebuah medium seni rupa, yaitu video art ini.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat beberapa kejanggalan waktu dan realitas pada video musik, ketika penyanyi mengatupkan mulutnya, sementara lagu tetap berlangsung, yang sering kita rasakan sebagai hal yang lumrah. Atau seperti kata krisna murti, dalam rekaman live pimpinan partai, di mana massa tidak kecewa karena ketidakhadiran tokoh digantikan oleh rekaman berupa video raksasa secara live.

Baik dalam live, relay, replay ataupun kenyataan realitas ada dan tiada dalam hubungannya dengan citra, sedikitnya menjelaskan bahwa video art – bersama kemampuan dokumentasionalnya – mampu mengubah persepsi ketidak-hadiran menjadi ada, ataupun sebaliknya. Di sini kemudian melahirkan satu kecurigaan tersendiri (jika ingin lebih dalam digali), dengan hanya berdasarkan kenyataan katupan mulut penyanyi dan suara yang tetap berjalan, yaitu: adanya sisi manipulatif pada video sendiri dalam representasinya sebagai bentukan apapun. Bahwa realitas dapat dibongkar-muat. Bahwa kesadaran manipulatif yang ada dalam media video selain didaya-gunakan demi menghasilkan karya, juga berakibat terbukanya realitas tak tersadarkan dalam kehidupan selama ini. Bahwa rekaman live pimpinan partai pun dapat direkayasa dengan dalih tayangan live, editing kalimat, mimik, ekspresi dan sebagainya, yang tidak diketahui oleh massanya.

Video art kemudian memberikan ruang-ruang kajian terhadap keberadaan itu sendiri. Bahwa banyak sekali hal-hal yang terlepas dari perhatian, namun tertuang secara nyata bersama keanehannya dalam bingkai seni. Bahwa makna kemudian adalah realitas yang dikonsensuskan, semakin banyak pendukungnya, semakin layak sebuah makna, sebuah realitas. Ketika konsensus itu direkayasa, maka ia telah melarikan diri dari kodrat seni. Karena seperti kata krisna murti (lagi) tidak ada realitas yang ultimate kecuali kemajemukan itu sendiri.

* * *

Kesadaran akan waktu sebagai sisi representasional yang paling mendalam di video art sendiri, memang pada akhirnya tidak sebatas korelasi mentahnya terhadap realitas. Pada akhirnya waktu, jika ingin dimaklumi tidak sebagai keanehan yang tak pernah ada dalam karya seni, adalah suatu yang sangatlah lumrah, hingga tak tersadari, karena hidup pun adalah sekelebatan waktu yang lewat bersama tiap detiknya menjadi sebuah sejarah tersendiri: sejarah personal.

Dalam representasi video art, konsekuensi adanya waktu tersebut, kemudian juga melahirkan pemadatan citra dalam bingkainya. Layaknya film yang mengkompromikan rata-rata waktu dua jam tayangnya, video art pun berstrategi serupa, walaupun dengan konsekuensi waktu yang lebih jamak. Kita tidak akan membahas durasi yang akan terjadi, karena itu terkait sekali dengan gestaltisasi sebuah karya. Namun kesadaran akan durasi itu (layaknya kesadaran luas media dalam lukisan), memberikan batasan sekaligus tantangan dalam memilah-milah bahasa ungkap apa yang akan diberikan dalam menerjemahkan konseptualitas karya.

Pemadatan representasi di sini kemudian erat dengan konsekuensi pola gambar seperti apa yang akan ditampilkan, apakah real, terproses, atau menciptakan citra sendiri? Lalu kemudian berkorelasi dengan teknik penyajian, apakah menganut linierasisasi seperti pada film (seperti telah dijelaskan di awal tulisan), menggunakan teknik naratif, dengan teks atau suara seperti dokumenter, ataukah hanya tumpukan citra tak terhubungkan dengan permainan editing?

Di sini, jelas, selain durasi tersebut memberikan jarak yang tegas pada penampakan terhadap penontonnya dalam mengartikulasikan karya, juga memberikan tantangan strategikal dalam menuangkan ekspresi secara representatif. Posisinya sebagai tontonan, mau tidak mau harus pula membawa kesadaran bahwa citra membutuhkan kejutan, klimaks, bahwa unsur kebosanan yang (pasti) ada dalam menonton video art harus pula dimanipulasi sebagai gejala tersendiri yang menjadi bagian karya.

Pembinaan realitas waktu oleh sisi manipulasi sebagai representasi, sangatlah luas ragamnya dan mungkin hanya dapat terjelaskan sebagian di sini. Permainan waktu dengan pengulangan adeganvdalam satu frame, ataupun menampilkan beberapa scene adegan sebelumnya sehingga merusak liniearitas, merupakan efek klimaks tersendiri yang mempermainkan penonton untuk mengulang adegan di dalam pikirannya sendiri, sementara video tetap berjalan. Bahkan permainan waktu dan realitas dapat hadir secara interaktif (seperti yang saya lihat dalam sebuah film) dengan menayangkan adegan live, ataupun replay dari penonton yang dishoot langsung oleh kamera, dan hasil gambarnya dapat langsung mereka saksikan dalam layar monitor. Masalah kehadiran kemudian malah dipertegas kembali dengan menjadikan tubuh penonton tersebut sebagai layar monitor itu sendiri, bersama tembakan langsung proyektor.

* * *

Suatu konsepsi penting selain apa yang ada dalam televisi serta keterkaitannya dengan relay, live dan replay, sebagai konsekuensi atas waktu dan realitas, adalah budaya filmis, yang mentranformasikan logika naratif dan linieratif.

Seperti yang telah diketahui, film, juga aplikasi video lainnya, merupakan narasi. Entah apakah itu narasi informatif (beserta deformasinya) dalam berita, ataupun narasi besar berisi makna dalam film. Faktor tiga babak yang sangat klise, memang sampai kini masih mewabah sebagai mainstream dalam dunia film, walaupun perombakan tetap ada. Namun, ada atau tiadanya dekonstruksi dalam factor tiga babak tadi, tetap film memiliki sifat narasi yang sangat kuat.

Dan apakah video art itu sendiri lalu bukanlah sebuah narasi? Bisa ya, bisa tidak. Karena di sini narasi lebih dipandang sebagai alat, seperti layaknya video sendiri, sehingga dapat dibilang tidak ada prioritas terhadap sistem representasi apapun dalam video art, selain konseptualitas yang dimiliki senimannya sendiri. Di sini, kebebasan tersebut menjadi tidak mengharuskan narasi ada, tiada, dideformasi, diacak atau apapun. Sehingga pencapaian yang ada dapat sangat beragam. Ada video (saya lupa siapa) yang dapat dikatakan sepenuhnya narasi (walaupun juga sempat ada yang mempertentangkan ke-video art-annya), namun tidak begitu dengan karya lainnya yang merupakan gerak sepenuhnya dari image yang kemudian hanya menstimulus interpretasi manusia.

Keberadaan narasi di sini, erat kaitannya dengan liniearitas, sebagai satu factor yang juga ada dalam kebudayaan film, ataupun televisi. Kepercayaan bahwa diperlukan suatu liniearisasi (mengikuti pola tertentu, entah itu berjalan lurus, ataupun kombinasi flash back, fast forward) sebagai pembentuk narasi, sangat kuat dalam budaya film, karena film memang lebih komunikatif, lepas dari sekacau apapun nilai-nilai ideologis di baliknya. Video art sendiri, mungkin dalam hal ini serupa dengan kenyataan narasi di atas: linier hadir hanya sebagai sistem, sehingga satu adegan tidak harus memiliki hubungan dengan lainnya, dan sekalipun ada, namun hubungan itu bisa terjalin hanya pada sebagian scene. Ia bsia hadir secara acak, setengah utuh, bahkan utuh sekalipun mengikuti linieraitas yang ada.

Menurut saya, pada pemakaian kedua sistem tersebut, narasi dan linier, perbedaannya yang sangat mendasar dengan film, adalah: kesadaran menyikapinya, bahwa baik narasi ataupun linier adalah hanya sebuah sistem representasi. Kesadaran ini membuat tidak terprioritaskannya kedua sistem ini, begitu juga dengan sistem-sistem lain seperti waktu, realitas dan lain sebagainya. Sehingga dari keadaan yang sangat merdeka ini, pemilihan lebih dilakukan berdasarkan kebutuhan representasional. Bahkan, dari keadaan ini, dapat ditemukan banyak sistem lain, yang mungkin belum terungkap untuk dieksplorasi dalam mempenetrasikan konseptualitas dalam wujud representasi tersebut. ( dikutip dari endonesa.net)

TAMAT



Januari 10, 2010 - Posted by | Artikel | , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: