Tips Sang Guru

Blog seorang guru yang ingin berbagi dan belajar bersama

Bung Karno dan Seni Rupa (3)

Monumentalisme Edhi Sunarso
patung tugu pancoran payung pancoran
SAYA yakin, andai Bung Karno masih hidup, sang proklamator itu pasti akan marah besar. Bayangkan, patung Dirgantara di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, kini ditelan jalan tol yang melintang dan mendominasi ruang kota. Patung yang berbentuk lelaki kekar seakan siap terbang itu tidak lagi tampak nyaman saat dilihat dari segala penjuru. Patung itu seolah-olah sudah kehilangan maknanya. Terjepit oleh modernitas kota yang terus-menerus mengepungnya.

Tentu, patung Dirgantara dibangun di kawasan Pancoran oleh Bung Karno untuk landmark Kota Jakarta, yang dia idamkan sebagai kota modern yang beradab. Kota yang tidak hanya besar secara fisik, tetapi sebuah ibu kota kebanggaan rakyat Indonesia yang memiliki makna besar.

Patung itu punya makna tersendiri bagi Edhi Sunarso, sang penciptanya, yang diminta Bung Karno untuk mewujudkan keinginannya untuk membangun simbol-simbol perjuangan bangsa. ”Bung Karno itu tidak suka yang nylekuthis. Dia suka seni yang monumental. Tidak hanya fisiknya, tapi juga maknanya,” kata Edhi ketika saya wawancarai awal 2001, saat saya menyiapkan buku Bung Karno: Seni Rupa dan Karya Lukisnya.

Patung berbahan perunggu dan berdiri kukuh sejak 1965 itu tidak pernah diresmikan oleh Bung Karno karena dia keburu ditelan ontran-ontran politik yang mengakibatkan dia jatuh. Bung Karno, menurut pengakuan Edhi, baru memberikan uang muka Rp 5 juta untuk membangun patung itu. Pembayaran selanjutnya diteruskan dengan cara angsuran dari uang pribadinya. Biaya keseluruhan Rp 12 juta. Tapi, hingga Bung Karno wafat, cicilan itu belum lunas. Edhi mengikhlaskan. Sebab, dari motivasi Bung Karno-lah, dia akhirnya menjadi pematung andal, penuh percaya diri, dan tidak mudah menyerah oleh kendala teknis apa pun.

”Kalau sudah mendapat order dari Bung Karno, tidak ada kata tidak bisa. Harus bisa dan harus selesai dengan sempurna,” kenang Edhi yang hingga usianya mendekati 80 tahun masih gigih membimbing mahasiswa ISI Jogjakarta.

Edhi memang punya kenangan spesial dengan Bung Karno. Pematung kelahiran Salatiga 2 Juli 1932 ini merupakan pelopor seni patung publik di Indonesia yang terpenting dan memiliki konteks historis yang kuat. Dikatakan terpenting karena dia seniman yang dipercaya Bung Karno untuk membangun ide-ide raksasa pada dekade 1950-1960. Dikatakan memiliki konteks historis kuat karena semua patung publik karyanya merefleksikan semangat bangsa yang baru merdeka.

Dari kolaborasi seorang ideolog besar sekaliber Bung Karno dan Edhi Sunarso yang pernah berguru kepada Hendra Gunawan, lahirlah sejumlah patung publik yang masih berdiri megah hingga kini. Antara lain, patung Selamat Datang (1959) di Bundaran Hotel Indonesia dan patung Pembebasan Irian Barat (1963) di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Selain itu, Edhi diminta Bung Karno untuk terlibat dalam pembuatan Diorama Sejarah Indonesia di Monumen Nasional (Monas).

Di mata Edhi Sunarso, Bung Karno memang seorang ideolog sejati. Dari pikirannya, Jakarta harus menjadi kota berperadaban modern yang memiliki nilai besar, megah, dan monumental. Untuk mewujudkan itu, Bung Karno sering memanggil sejumlah seniman dan arsitek atau dia sendiri mendatangi studio seniman dalam rangka mendiskusikan ide-ide besarnya itu. Dari situlah kemudian muncul ide untuk membangun Gelora Senayan, Jembatan Semanggi, Hotel Indonesia, dan sejumlah bangunan besar lain yang semua itu dimaksudkan untuk menciptakan kebanggaan nasional (nasional pride), sekalipun dia mendapatkan tentangan hebat dari lawan-lawan politiknya. Dari Bung Karno, Edhi mendapatkan keyakinan tinggi untuk selalu mewujudkan ide-ide besar, sekalipun pada waktu itu dia belum paham betul teknik cor logam dan teknik membuat patung berskala besar. ”Pokoknya, Bung Karno tidak mau mendengarkan berbagai kendala yang saya hadapi waktu itu,” ujar Edhi dengan mimik bangga.

***

Kini pematung yang memperoleh pendidikan dari Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI, sekarang ISI Jogja, Red) pada 1950-1955 dan dari Khalla Bhavan Visva Bharati Rabindranath Tagore University di Santiniketan, India pada 1955-1957 itu menyandang gelar empu ageng seni dari ISI Jogjakarta. Gelar prestisius yang diberikan pada 14 Januari 2009 itu, sekalipun terkesan terlambat untuk disematkan kepada Edhi, sungguh tepat. Gelar itu memperlihatkan bahwa Edhi memang tonggak (milestone) penting dalam dunia seni patung modern di Indonesia.

Seni patung modern Indonesia lahir sekitar 1940. Seni patung modern ini bukan kelanjutan seni patung tradisional yang memiliki garis sejarah yang kuat dan berakar dalam tradisi visual Nusantara. Pertumbuhan seni patung modern Indonesia berkiblat pada seni patung modern Barat. Jim Supangkat (1992) berpendapat, terdapat tiga gejala awal pertumbuhan seni patung baru Indonesia yang tidak berhubungan satu dengan lainnya. Gejala pertama, akibat percobaan sejumlah pelukis membuat patung sebagai usaha mencari media ekspresi lain. Gejala kedua, pembuatan patung untuk melayani kebutuhan mendirikan monumen-monumen. Gejala ketiga, akibat perkembangan jurusan seni patung di akademi-akademi seni rupa.

Dalam konteks itu, sebagai seniman yang setia dengan patung sebagai media ekspresi, karya-karya patung Edhi selain berada dalam gejala kedua juga merupakan rentetan dari perkembangan gejala ketiga. Dalam konteks gejala ketiga ini, dia juga bereksplorasi dengan berbagai material, khususnya dengan logam dan kayu. Perwujudannya tidak lagi terfokus pada patung realis, tetapi lebih bervariasi. Dari situlah, kita mendapatkan karya-karya Edhi yang terkesan kuat ide-ide formalistisnya. Watak bahan, tekstur, hubungan bentuk dan ruang, karakter garis, volume, proporsi, dan besaran (skala) secara intuitif hadir mengalir dengan kepekaan estetik yang paripurna. Dengan demikian, karya-karya patung nonpublik Edhi tampak memiliki aura tersendiri.

Tentu, kehadiran patung-patung Edhi sebagaimana terlihat dalam pameran Retrospeksi di Jogja Galeri, 14-24 Januari 2010, tidak bisa dilepaskan dari posisinya sebagai pengampu senior di jurusan seni patung ISI Jogjakarta. Artinya, dalam konteks ini, karya-karya tersebut mencerminkan kekuatan kreativitas dan produktivitas Edhi dalam konteks gejala ketiga yang disebutkan Jim Supangkat. Dalam konteks ini pula, seni rupa modern yang berbasis pada trikotomi, yaitu seni lukis, seni patung, dan seni grafis, yang berkembang cukup pesat di dunia akademis, makin mendapatkan kekuatan baru karena telah melahirkan banyak ikon dalam seni rupa modern.

Sayang, pameran sepenting itu sebagai tanda capaian Edhi yang paripurna kurang mendapatkan ruang yang cukup. Saya membayangkan, jika pameran Retrospeksi sang empu ageng seni tersebut diselenggarakan di tempat yang luas semacam Galeri Nasional Indonesia atau di Jogja Nasional Museum, tentu ”monumentalisme” Edhi Sunarso akan terasa kuat. (*Jawa Pos, Minggu, 24 Januari 2010)

*) Djuli Djatiprambudi , kurator seni rupa, pengajar di Jurusan Seni Rupa dan Pascasarjana Unesa.

Mei 20, 2010 - Posted by | Artikel, Berita, Karya Seni | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: