Tips Sang Guru

Blog seorang guru yang ingin berbagi dan belajar bersama

Beasiswa sampai Lulus Kuliah bagi Empat Lulusan SMA NU 1 Gresik

Chusnul Cahyadi: Penghobi Film Indie, Komputer, dan Calon Pendidik

Jika banyak lulusan SMA yang terkendala biaya untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi, nasib berbeda dialami empat lulusan SMA Nahdlatul Ulama (NU) 1 Gresik. Mereka bisa menempuh pendidikan di perguruan tinggi dengan gratis.
CONVENTION Hall Sarana Graha PT Petrokimia Gresik di Jalan A. Yani, Gresik, menggema kemarin (8/6). Tepuk tangan ratusan siswa dan orang tua bergemuruh hampir sepanjang acara pelepasan siswa.

Kegembiraan itu terjadi setelah Kepala SMA NU 1 (SMA Nusa) Gresik Z. Fuad Basyir mengumumkan adanya 48 di antara 374 lulusan sekolah yang masuk perguruan tinggi negeri lewat jalur PMDK.

Mereka, antara lain, diterima di Sekolah Tinggi Teknik Nuklir Badan Tenaga Atom Nasional di Jogjakarta, Teknik Kimia ITS Surabaya, Hukum Keluarga Islam di IAIN Sunan Ampel, hingga Jurusan Televisi dan Film di Institut Seni Indonesia Negeri (ISI) Surakarta, Jateng.

Empat di antara puluhan siswa yang beruntung itu lebih beruntung karena mendapatkan beasiswa sampai lulus PTN. Mereka adalah Moh. Mahrus Ali dan Jenis Nindiyah (XII IPA-2). Keduanya diterima di Institut Seni Indonesia Negeri Surakarta (ISI) jurusan TV dan film. Berikutnya, Ma’rifatul Khusniyah (XII IPA-2) diterima di ITS Surabaya jurusan sistem informasi dan Putriana Sandra Puspita Dewi (XII IPA-4) diterima di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) jurusan pendidikan biologi.

Kris Adji A.W., guru kesenian SMA Nusa Gresik, mengungkapkan, Mahrus sebenarnya diterima PMDK di dua PTN. Yakni, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) jurusan manajemen informatika dan Institut Seni Indonesia Nasional Surakarta jurusan TV dan film. ”Mahrus memilih ISI karena selama di sekolah sering membuat film. Bahkan, film indie yang dia buat menjadi juara pertama di Unair pada 2009,” ujarnya sambil melirik Mahrus yang duduk di sampingnya.

Mahrus hanya mengangguk. Dia mengungkapkan, selama ini dirinya telah membuat tiga film indie dan film dokumenter. Film indie berdurasi 15 menit yang memenangi lomba di Unair Surabaya tersebut berjudul Daur Ulang Plastik. ”Sejak itu saya gemar membuat film,” ujar ABG 18 tahun asal Desa Betoyo Kauman, Kecamatan Manyar, tersebut.

Pada 2010, anak kelima di antara tujuh bersaudara pasangan Nahwan dan Dewi Norma itu berhasil masuk lima besar nasional untuk sebuah iklan sepeda motor. ”Saya juga membuat film dokumenter,” ungkap Mahrus.

Film dokumenter yang diberi judul Siapa Aku! itu menceritakan seorang anak yang mencari ibu kandungnya. Ketika dewasa, sang ibu kandung ditemukan dalam kondisi sudah gila. ”Tapi, itu tidak terjadi pada diri saya lho,” katanya lantas tersenyum.

Dalam membuat film, Mahrus memang tidak sendirian. Dia biasanya bersama lima temannya. Di antaranya, Jenis Nindiyah. ”Biasanya kami bergantian dalam membuat film. Kadang saya jadi sutradara, kadang juga penulis skenario. Tapi, handycam pinjam kakak Mahrus,” ungkap Jenis yang tinggal di Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, Kecamatan Kebomas, tersebut.

Jenis senang menggeluti perfilman karena melibatkan banyak orang. ”Seru aja. Banyak yang terlibat. Selain itu, sesuai bakat seni saya,” tegasnya.

Ma’rifatul Khusniyah lain lagi. Putri kedua di antara lima bersaudara pasangan M. Fauzi dan Siti Nur Nafi’ah itu mengungkapkan, sejak masih SMP dirinya senang mengutak-atik program komputer. Bahkan, jika di warnet, dia betah berlama-lama sekadar untuk mempelajari program di situs. ”Saya memang suka mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi, terutama teknik komputer,” ujar peraih nilai ujian nasional (unas) 53,15 tersebut. Nilai unas itu tertinggi di sekolahnya.

Ma’rifatul mengungkapkan, dirinya akan mendalami sistem informasi, bukan komputer secara fisik atau hardware. ”Saya lebih condong mempelajari sistem informasinya, bukan barang-barang yang dipakai untuk merakit komputer,” jelasnya.

Sementara itu, Putriana Sandra Puspita Dewi lebih memilih menjadi guru. ”Mungkin, bagi sebagian siswa, biologi memang momok. Tapi, bagi saya, pelajaran itu sangat menyenangkan sekaligus menantang,” tegas ABG 18 tahun yang tinggal di Jalan Yakult, Kompleks Perumahan Pondok Permata Suci (PPS), Desa Suci, Kecamatan Manyar, tersebut.

Sandra, calon guru itu, sepintas terlihat feminin. Namun, jangan menggoda dia. Sebab, dia juara pertama pencak silat Kabupaten Gresik pada 2007. (c5/ruk) JAWA POS, Rabu, 9 Juni 2010

Juni 12, 2010 - Posted by | Berita, Informasi Pendidikan | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: